Pergelaran Wayang Layar Panjang, Dengan Lakon Jaka Kembang Kuning, Bersama Dalang Ki Cahyo Kuntadi, Ki Rido Widhiono, dan Ki Yanuar Finna

  • Whatsapp
Ae5eb8363f7a48d09f3e6d02c680a25b

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Institur Seni Indonsia Surakarta , dalam rangka ikut memeriahkan hari jadi Provinsi Jawa Timur yang ke-78 dan Asean Panji Festival 2023 di Jawa Timur,” Rabu (18/10/2023)

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui
UPT. Taman Budaya akan menyelenggarakan Pergelaran Wayang Layar Panjang bersama Dalang Ki Cahyo Kuntadi, Ki Rido Widhiono, dan Ki Yanuar Finna dari Institur Seni Indonsia (ISI) Surakarta, Lakon yang akan ditampilkan, Jaka Kembang Kuning.

Bacaan Lainnya

Pergelaran akan dilaksanakan pada Jum’at, 20 Oktober 2023, pukul 20:00 WIB. Di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur Cak Durasim, Jl. Gentengkali 85 Surabaya.

Pergelaran wayang kulit kali ini dengan menampilkan lakon panji, bertujuan untuk merangkul generasi muda dalam melestarikan wayang dan cerita panji.

Bentuk kegiatan selain berupa pergelaran wayang layar panjang juga terdapat Workshop Sabet Tematik dalam Garapan Pertunjukan Wayang.

Sasaran kegiatan pergelaran adalah masyarakat pecinta wayang yang ada di Kota Surabaya dan sekitarnya serta penonton youtube cannel YT Cak Durasim.

Acara Workshop akan dilaksanakan mulai pukul 09:00 WIB sampai dengan selesai, dengan melibatkan anak-anak dan remaja, dalam hal ini dari sekolah seni dan sekolah yang
ada di Surabaya, yang aktif dalam kegiatan kesenian tradisional (SMKN 12, SMPN 4, SMPN3, SMPN 1, SMPN 12, SMA Untag’45, SMA Tri Murti) dan juga sekolah lain yang ada di Surabaya raya,” Terangnya.

WAYANG LAYAR PANJANG, JOKO KEMBANG KUNING

Dalang :
• Ki Cahyo Kuntadi, M.Sn.
• Ki Yanuar Finsa Setiano
• Ki Rido Widhiono

Penari Klana : Fajar Rahmad
Sutradara : CahyoKuntadi, M.Sn
Penata Naskah : WejoSeno YuliNugroho, M.Sn dan Pranowo Widyastoto
Penata Iringan : AnggreValentino
Pengrawit : HIMA Prodi Pedalangan, FSP, ISI Surakarta
Ketua Produksi : Sri Harti Kenikasmorowati, M.Sn
Narasumber Workshop : Dr. Bagong Pujiyono dan Cahyo Kuntadi, M.Sn

KISAH JAKA KEMBANG KUNING

Panji Asmara bangun dan Dewi Sekartaji telah lama menjalin kasih, keinginannya untuk segera menjadi pasangan suami-isteri terpaksa harus dikesampingkan, karena ia memenuhi panggilan tugas sebagai calon raja.

Sebagai calon raja, Panji Asmara bangun harus mempersiapkan diri untuk menimba ilmu pengetahuan berbagai bidang. Selain
itu, ia harus mampu mengakomodasi keinginan rakyat demi untuk mensejahterakan mereka.

Dalam rangka untuk mencapai harapannya tersebut, ia memutuskan untuk pergi dengan menyamar sebagai pemuda desa, bernama Joko Kembang Kuning.

Kepergian Panji Asmara bangun membuat perasaan galau Dewi Sekartaji yang sekian lama telah menunggu namun tidak mendapatkan kepastian dari Sang kekasih. Situasi gundah
Dewi Sekartaji ini semakin memburuk, ketika datang surat dari Prabu Klana Gendhing, pita yang menyatakan ingin meminang sebagai isteri.

Oleh karena tidak tahan dalam menghadapi situasi yang sulit itu, maka Dewi Sekartaji memutuskan untuk pergi dari Kadiri
tanpa sepengetahuan Ayahandanya, dan kerabatnya. Ketika Joko Kembang Kuning menolong beberapa gadis tetangga yang diganggu oleh prajurit Prabu Klana, mendapatkan kabar bahwa pujaan hatinya telah lama pergi meninggalkan Kadiri, dan oleh
Prabu Brawijaya kepergiannya dibuat sayembara: siapa saja yang dapat membawa pulang Dewi Sekartaji dalam keadaan segar bugar, dialah yang berhak menjadi suaminya.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya, Jaka Kembang Kuning memutuskan untuk mencari Dewi Sekartaji dengan cara mengadakan pertunjukan sulap. Di suatu hari saat ia mengadakan pertunjukan dilihatnya seorang gadis, ia sangat mengenal gadis itu yang diyakini bahwa dia permata hatinya yang hilang.

Disisi lain, ketika Dewi Sekartaji melihat pemuda pemain sulap, ia segera mengenalinya bahwa pemuda itu adalah kekasihnya Panji Asmarabangun. Dengan segera Dewi Sekartaji berlari menjauhkan diri.

Panji Asmarabangun merasa yang dicari ada di dekatnya segera ia menyusul mengejar. Terjadilah kejar-mengejar takterelakkan. Setelah keduanya bertemu, dengan kearifan disertai rasa saling pengertian akhirnya, mereka mampu menyelesaikan permasalahan diantara mereka,” Ujarnya.

(Abie).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *