Banyak Tradisi Ramadan Melibatkan Makanan, Ini Penjelasan Antropolog Unair

  • Whatsapp
Screenshot 20240315 215436 Chrome

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com Bulan Ramadan merupakan bulan yang dinanti-nanti oleh masyarakat muslim seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Banyak tradisi Nusantara yang dilaksanakan saat Ramadan. Berbagai tradisi seperti Meugang di Aceh, Malamang di Sumatera Barat, Munggahan di Jawa Tengah, serta Megengan di Jawa Timur yang melibatkan makanan. Hal itu bukan tanpa sebab, Antropolog Unair sebut ada keterlibatan agama.

Djoko Adi Prasetyo Drs MSi sebut ada nilai-nilai mulia dalam tradisi yang melibatkan makanan. Ia mencontohkan kue apem pada tradisi Megengang yang memiliki nilai permohonan maaf. “Adanya saling mengeratkan tali persaudaraan, permohonan maaf baik itu kepada tetangga atau kepada sanak saudara yg selama ini sangat jarang berinteraksi sosial secara “luring” karena kesibukannya. Juga terkandung nilai berbagi rezeki berupa makanan kue apem, yg memiliki makna permintaan maaf,” ujarnya, di Surabaya, Jumat(15/3/2024).

Bacaan Lainnya

Banyak tradisi yang terjadi di bulan Ramadan berangkat dari rasa syukur akan datangnya bulan mulia itu. Sebagai bentuk syukurnya, diwujudkan ke dalam pesta makan. Seperti Meugang di Aceh yang menggunakan daging hingga Malamang di Sumatera Barat yang menggunakan makanan lemang.

Megengan, tradisi khas Jawa Timur, menurut Djoko memiliki tujuan untuk mendoakan anggota keluarga atau nenek moyang yang sudah meninggal. Selain juga sebagai bentuk rasa syukur dengan selamatan, Megengan juga sebagai bentuk permohonan agar dikuatkan lahir batin ketika berpuasa.

“Megengan diambil dari kata megeng yang artinya menahan. Makna tradisi ini sendiri ialah menahan segala hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan dan minum. Megengan artinya juga keselamatan agar tetap terjaga selama menghadapi bulan Ramadan,” jelasnya.

Lebih lanjut, melihat secara antropologis, kebudayaan dapat berkembang dengan dipengaruhi oleh agama. Agama, jelas Djoko adalah sesuatu yang universal, final, abadi, dan tidak dapat berubah. Oleh karena itu, agama yang dianut oleh masyarakat akan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru di dalam masyarakat hingga kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi. “Agama dan budaya berjalan saling mempengaruhi karena memiliki simbol dan nilai, namun agama dan budaya harus tetap dibedakan.”

Menurutnya, agama merupakan simbol nilai ketaatan manusia kepada tuhan. Sedangkan budaya merupakan simbol nilai dan norma dalam kehidupan manusia dan masyarakat. (mad/hjr)

Dinas KOMINFO JATIM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *