Satu Dekade Festival Layang-Layang Dohoagung, Dari Desa di Gresik Menembus Panggung Nasional

  • Whatsapp
IMG 20261013 WA0005

GRESIK, Nusantaraabadinews.com — Hamparan langit Desa Dohoagung, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, berubah menjadi panggung budaya yang memikat ribuan pasang mata. Ratusan layang-layang dari berbagai daerah menghiasi cakrawala dalam Festival Layang-Layang Dohoagung 2026 Tingkat Nasional yang berlangsung pada Sabtu–Minggu, 10–11 Oktober 2026. Tahun ini menjadi momen istimewa karena festival tersebut genap memasuki satu dekade penyelenggaraan.

Berlangsung di area persawahan Desa Dohoagung, festival ini bukan sekadar ajang adu kreativitas dan keterampilan menerbangkan layang-layang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu berkembang menjadi daya tarik budaya berskala nasional sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang rangkaian acara. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa memadati lokasi untuk menyaksikan beragam bentuk, warna, dan karakter layang-layang yang menghiasi langit. Peserta yang datang dari berbagai kota, kabupaten, dan provinsi turut menambah semarak kompetisi yang telah menjadi agenda penting bagi komunitas pelayang.

Ketua Panitia Festival Layang-Layang Dohoagung 2026, Khoirul Anam, S.H., mengatakan bahwa perjalanan selama sepuluh tahun merupakan wujud komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi dan melestarikan seni budaya layang-layang.

Menurutnya, festival ini dirancang bukan hanya sebagai perlombaan, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan potensi Desa Dohoagung kepada masyarakat yang lebih luas.

Memasuki penyelenggaraan satu dekade, panitia terus berupaya menjaga semangat kebersamaan dan gotong royong agar festival dapat berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.

IMG 20261013 WA0006

“Festival Layang-Layang Dohoagung bukan sekadar perlombaan, melainkan bagian dari upaya kami untuk menjaga warisan tradisi dan budaya yang telah tumbuh di tengah masyarakat. Memasuki penyelenggaraan yang ke-10, kami ingin terus mempertahankan semangat tersebut sekaligus memperkenalkan potensi Desa Dohoagung kepada masyarakat yang lebih luas,” ungkap Khoirul Anam.

Yudistira Kite Sleman Kembali Raih Juara Umum, Persaingan antarpeserta berlangsung meriah dengan beragam kategori yang menguji kreativitas, keterampilan, dan kemampuan menerbangkan layang-layang. Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menyediakan total hadiah sebesar Rp18,7 juta, dengan 21 kategori lomba dan 81 piala yang diperebutkan.

Gelar juara umum Festival Layang-Layang Dohoagung 2026 kembali diraih Yudistira Kite dari Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan posisi tim tersebut sebagai juara bertahan dalam kompetisi tahun ini.

Kehadiran peserta dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa Festival Layang-Layang Dohoagung memiliki daya tarik yang melampaui batas daerah. Ajang ini menjadi ruang pertemuan bagi para pelayang untuk menunjukkan kemampuan, bertukar pengalaman, memperluas jaringan, dan mempererat persaudaraan melalui kecintaan terhadap layang-layang.

Dukungan terhadap keberlangsungan festival juga disampaikan Ketua Talikama Jawa Timur, Adieb Hazmy. Ia menilai Festival Layang-Layang Dohoagung memiliki keistimewaan tersendiri karena mampu diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat desa dengan dukungan dan antusiasme yang luar biasa.

IMG 20261013 WA0004“Talikama Jatim akan sepenuhnya mendukung kegiatan Festival Layang-Layang Dohoagung, karena acara ini sangat luar biasa dan punya nilai tersendiri dibandingkan dengan tempat lain, bahkan di seluruh dunia. Sebuah desa di pelosok bisa menyelenggarakan acara secara mandiri dengan antusiasme warga dan penonton yang sangat luar biasa banyaknya. Dohoagung memang istimewa,” ujar Adieb Hazmy.

Panggung Budaya yang Menghidupkan Potensi Desa, Kemegahan festival tidak hanya tersaji melalui layang-layang yang memenuhi langit. Berbagai kegiatan pendukung turut memberikan warna tersendiri, mulai dari lomba mewarnai, workshop, pertunjukan kesenian jaranan, tari tradisional, musik qosidah, hingga hiburan dangdut bersama OM Belicia.

Menariknya, sejumlah pertunjukan seni dan hiburan tersebut berasal dari Desa Dohoagung sendiri. Kondisi ini memperlihatkan potensi sumber daya manusia dan kekayaan seni budaya lokal yang dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas desa.

Melalui festival ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga tampil sebagai pelaku utama dalam menjaga dan memperkenalkan kebudayaan mereka. Generasi muda memperoleh ruang untuk mengenal tradisi, sementara para pelaku seni lokal mendapatkan kesempatan menunjukkan kreativitas kepada pengunjung dari berbagai daerah.

Kepala Desa Dohoagung, H. Warsito Adi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah konsisten menyelenggarakan festival selama sepuluh tahun berturut-turut.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Desa Dohoagung akan terus mendukung kegiatan tersebut agar dapat berlangsung setiap tahun dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah berjuang dan konsisten menyelenggarakan Festival Layang-Layang Dohoagung selama sepuluh tahun berturut-turut. Pemerintah Desa Dohoagung akan selalu siap mendukung dan membantu agar festival ini tetap berlangsung setiap tahun di Desa Dohoagung,” ungkap H. Warsito Adi.

Dukungan pemerintah desa dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan festival. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Dohoagung sebagai salah satu tujuan kegiatan wisata budaya di Kabupaten Gresik.

Ribuan Pengunjung Buka Peluang Ekonomi Kerakyatan,Di balik kemeriahan festival, perputaran ekonomi masyarakat menjadi salah satu dampak yang turut dirasakan. Ramainya pengunjung memberikan peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang makanan dan minuman, serta penjual layang-layang untuk meningkatkan aktivitas perdagangan selama kegiatan berlangsung.

Lapak-lapak pedagang menjadi bagian dari denyut keramaian festival. Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk sekaligus memperoleh tambahan pendapatan.

Dengan demikian, Festival Layang-Layang Dohoagung tidak hanya berfungsi sebagai ruang pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Apabila dikelola secara berkelanjutan, kegiatan ini dapat mendukung pengembangan potensi desa melalui sektor seni, budaya, pariwisata, dan usaha masyarakat.

Festival ini juga mengandung pesan filosofis tentang keseimbangan dalam kehidupan. Sebagaimana layang-layang membutuhkan keselarasan antara angin, benang, dan kendali agar dapat terbang dengan baik, manusia pun memerlukan keseimbangan antara pikiran, perasaan, tindakan, serta hubungan dengan sesama.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat gotong royong yang menjadi fondasi penyelenggaraan festival. Keberhasilan sebuah kegiatan budaya tidak hanya ditentukan oleh kemeriahan acara, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama, menjaga persaudaraan, dan mewariskan nilai-nilai positif kepada generasi berikutnya.

Dohoagung Membuktikan Tradisi Mampu Bertahan di Tengah Perubahan Zaman, Sepuluh tahun perjalanan Festival Layang-Layang Dohoagung menjadi gambaran bahwa tradisi dapat terus hidup ketika masyarakat memiliki kemauan untuk merawatnya bersama-sama.

Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, festival ini menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk kembali menikmati kebersamaan melalui permainan tradisional yang sarat nilai kreativitas, ketekunan, dan persaudaraan.

Keterlibatan panitia, pemerintah desa, komunitas pelayang, pelaku seni, UMKM, serta masyarakat menjadi modal penting untuk membawa festival ini menuju penyelenggaraan berikutnya dengan jangkauan yang semakin luas.

Dari sebuah desa di Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Festival Layang-Layang Dohoagung menunjukkan bahwa kegiatan berbasis tradisi lokal memiliki peluang untuk berkembang menjadi agenda budaya tingkat nasional.

Layang-layang yang terbang tinggi di langit Dohoagung bukan hanya menjadi tontonan yang memikat, melainkan juga simbol semangat masyarakat dalam menjaga warisan budaya, memperkuat kebersamaan, dan mendorong kemajuan ekonomi desa.

Memasuki satu dekade penyelenggaraan, Festival Layang-Layang Dohoagung 2026 diharapkan terus tumbuh sebagai kebanggaan masyarakat Gresik, sekaligus menjadi inspirasi bahwa pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan dari desa untuk Indonesia.(Teguh)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *