Undika Luncurkan Flanatomy Berbasis Augmented Reality Guna Dukung Pendidikan Inklusif

  • Whatsapp
Foto: Anak-anak SLB menggunakan Flanatomy puzzle 3D berbahan flanel dengan fitur augmented reality dalam pembelajaran biologi.
Foto: Anak-anak SLB menggunakan Flanatomy puzzle 3D berbahan flanel dengan fitur augmented reality dalam pembelajaran biologi.

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Dosen Universitas Dinamika (Undika) Surabaya mengembangkan media pembelajaran biologi khusus Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Media pembelajaran ini telah disalurkan ke beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) di Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

Media ini memuat tiga materi utama, yaitu organ tubuh, sistem pernapasan, dan sistem pencernaan yang disajikan secara interaktif agar lebih mudah dipahami oleh para siswa.

Media pembelajaran yang dinamai ‘Flanatomy: Puzzle 3D Augmented Reality’ ini merupakan proyek yang dapat membantu anak dengan gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang seringkali mengalami kesulitan fokus dan mempertahankan perhatian dalam proses pembelajaran.

Foto: Anak-anak SLB menggunakan Flanatomy puzzle 3D berbahan flanel dengan fitur augmented reality dalam pembelajaran biologi.
Foto: Anak-anak SLB menggunakan Flanatomy puzzle 3D berbahan flanel dengan fitur augmented reality dalam pembelajaran biologi.

Flanatomy menghadirkan puzzle 3D yang menggunakan bahan kain flanel untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus untuk menstimulasi sensori mereka, sekaligus aman saat digunakan.

Potongan-potongan puzzle juga memiliki warnawarna yang sesuai dengan warna organ tubuh asli, sehingga anak-anak dapat lebih mudah mengenali bentuk dan fungsi setiap organ secara visual maupun taktil.

“Dengan Flanatomy, anak-anak bisa menempelkan potongan puzzle sesuai dengan tempatnya. Selain itu, terdapat teknologi augmented reality (AR) yang dapat menarik perhatian mereka dengan memberikan pembelajaran melalui audio dan visual,” jelas Ketua Tim Peneliti Flanatomy Undika Bambang Hariadi, Kamis (11/12/25).

Mei 2025, tim peneliti Flanatomy berjibaku untuk menciptakan sebuah media pembelajaran yang bisa menjadi solusi bagi anak-anak berkebutuhan khusus maupun guru SLB.

Proyek yang dibiayai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini telah mencapai tahap final dan sudah dibagikan kepada guru-guru SLB pada acara diseminasi hasil penelitian pada Selasa (09/12/25)).

Para guru SLB antusias dengan kehadiran flanatomy karena sangat membantu proses pembelajaran siswa.

Fitur-fitur interaktifnya memungkinkan siswa dengan berbagai kebutuhan belajar untuk terlibat secara aktif dan memahami materi dengan cara yang lebih sesuai dengan kemampuan mereka.

“Salah satu pelajaran kami di sekolah adalah bina diri, yang mengajak anak untuk mengenal diri mereka. Melalui Flanatomy, media ini akan sangat bermanfaat bagi anak-anak kami karena dapat menambah keilmuan yang akan mudah dipelajari oleh anak-anak kami,” terang Kepala Sekolah SLB Autis Mutiara Hati Surabaya, Handoko.

Sedangkan Kepala Sekolah SLB Putra Mandiri Surabaya, Dyajeng Ayu Mega Puspita, mengatakan bahwa materi yang disampaikan di Flanatomy sesuai dengan capaian pembelajaran di sekolah.

“Selain membantu anak-anak berkebutuhan khusus belajar, Flanatomy juga memudahkan guru dalam memberi ilmu pengetahuan kepada mereka,” ujar Dyajeng.

Kepala Bidang PK-PLK Dinas Pendidikan Jawa Timur, Iva Candraningtyas, berharap untuk ke depan Flanatomy akan hadir dalam materi yang berbedasehingga dapat menambah wawasan para anak-anak berkebutuhan khusus.

“Kita memerlukan media pembelajaran yang inklusif seperti Flanatomy ini, karena pendekatan audio, visual, dan taktil sangat membantu siswa dalam memahami konsep biologi. Harapannya, inovasi seperti ini bisa terus berkembang dan merambah ke materi-materi lain agar ilmu pengetahuan bagi anak berkebutuhan khusus semakin luas,” ungkapnya.

Terciptanya media pembelajaran ini juga merupakan bentuk komitmen Undika yang selaras dengan semangat Diktisaintek Berdampak besutan Kemdiktisaintek, yang mengajak perguruan tinggi untuk berperan aktif mengatasi isu-isu di tengah kehidupan masyarakat.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *