SIDOARJO, Nusantaraabadinews.com – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Desa Rangkah Kidul, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, menggelar rangkaian kegiatan religius yang sarat makna spiritual dan kebersamaan. Pada Minggu sore (15/2/2026) pukul 16.00 WIB, warga melaksanakan tradisi nyekar bersama di makam Islam desa setempat. Kegiatan dilanjutkan dengan megengan serentak di seluruh masjid dan musolla pada Senin malam (16/2/2026) ba’da magrib.
Tradisi nyekar atau ziarah kubur menjadi momen refleksi sekaligus pengingat akan kehidupan yang fana. Sejak sore hari, ratusan warga dari berbagai kalangan tampak memadati area makam Islam Desa Rangkah Kidul. Mereka membawa bunga tabur dan air doa, kemudian bersama-sama memanjatkan tahlil, istighfar, dan doa untuk para leluhur serta keluarga yang telah wafat.
Suasana khidmat begitu terasa ketika doa bersama dipimpin oleh tokoh agama setempat. Kepala desa dan perangkat desa turut hadir bersama tokoh masyarakat, RT/RW, serta unsur lembaga kemasyarakatan desa. Salah satu tokoh masyarakat yang turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah H. Warlheiyono, yang mengapresiasi kekompakan warga dalam menjaga tradisi keagamaan.

Menurutnya, nyekar bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjasa membangun desa. “Ini adalah momen untuk mendoakan leluhur sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga. Menjelang Ramadan, kita diajak untuk membersihkan hati dan saling memaafkan,” ujarnya.
Keesokan harinya, Senin (16/2/2026), suasana religius kembali terasa di seluruh penjuru desa. Usai salat magrib, warga berkumpul di masjid dan musala untuk menggelar megengan serentak. Tradisi megengan yang identik dengan doa bersama dan berbagi makanan sebagai simbol sedekah menjadi wujud rasa syukur sekaligus persiapan spiritual memasuki bulan puasa.
Di setiap masjid dan musala, warga duduk bersila membawa berkat atau makanan dari rumah masing-masing. Doa bersama dipanjatkan agar diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan kekuatan menjalankan ibadah puasa. Setelah doa selesai, makanan dibagikan dan disantap bersama dalam suasana penuh keakraban.
Megengan sendiri merupakan tradisi khas masyarakat Jawa menjelang Ramadan, yang mengandung makna menahan diri serta mempererat tali persaudaraan. Di Desa Rangkah Kidul, tradisi ini dilaksanakan secara serentak sebagai bentuk kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
Kegiatan nyekar dan megengan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong dan religiusitas masih terjaga kuat di tengah masyarakat. Pemerintah desa berharap tradisi ini terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus penguat harmoni sosial.
Dengan semangat kebersamaan dan doa, warga Desa Rangkah Kidul menyambut Ramadan dengan hati yang bersih, penuh harapan, dan tekad untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan yang penuh berkah. (Abie)






