MAKI Jatim: Hari Lahir Pancasila Harus Jadi Momentum Perang Melawan Korupsi dan Memperkuat Persatuan Bangsa

  • Whatsapp
Image (1)

SIDOARJO, Nusantaraabadinews.com– Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai dasar negara yang selama puluhan tahun menjadi perekat keberagaman Indonesia. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, ancaman perpecahan sosial, serta masih mengakarnya praktik korupsi di berbagai sektor, semangat Pancasila dinilai harus hadir bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai kekuatan nyata yang membimbing arah perjalanan bangsa, Senin (1 Juni 2026)

Pesan tersebut disampaikan oleh Heru Satryo, Koordinator Wilayah Jawa Timur Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang mengusung tema “Memperkokoh Ideologi Pancasila, Menjaga Persatuan, Membangun Indonesia yang Berkeadilan.”

Menurut Heru Satryo, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh dimaknai sekadar sebagai agenda tahunan yang dipenuhi upacara dan seremonial. Lebih dari itu, momentum bersejarah ini harus menjadi ruang refleksi nasional untuk mengukur sejauh mana nilai-nilai Pancasila telah diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menegaskan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan penguatan karakter kebangsaan yang berpijak pada lima sila Pancasila. Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, serta perubahan sosial yang begitu cepat, bangsa Indonesia dituntut tetap menjaga identitas, persatuan, dan semangat gotong royong yang menjadi warisan para pendiri bangsa.

“Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman moral yang harus hidup dalam setiap keputusan, kebijakan, dan perilaku seluruh warga negara. Ketika nilai-nilai Pancasila benar-benar dijalankan, maka persatuan akan terjaga, keadilan dapat diwujudkan, dan pembangunan akan berjalan untuk kepentingan rakyat,” ujar Heru Satryo.

Dalam pernyataannya, Heru memberikan perhatian serius terhadap persoalan korupsi yang hingga kini masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan nasional. Menurutnya, korupsi merupakan musuh bersama yang tidak hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga merusak sendi-sendi moral kehidupan berbangsa.

Ia menilai praktik korupsi bertentangan secara langsung dengan seluruh nilai yang terkandung dalam Pancasila. Korupsi mencederai prinsip keadilan sosial, merusak semangat kemanusiaan, mengkhianati amanah rakyat, dan menghambat terwujudnya kesejahteraan yang merata.

“Tidak ada ruang bagi korupsi dalam nilai-nilai Pancasila. Ketika seseorang melakukan korupsi, pada saat yang sama ia telah mengabaikan kejujuran, tanggung jawab, dan rasa keadilan yang menjadi ruh kehidupan berbangsa. Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila juga berarti memperkuat komitmen untuk melawan korupsi tanpa kompromi,” tegasnya.

Heru Satryo menambahkan bahwa pemberantasan korupsi tidak dapat hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Upaya tersebut harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan karakter, penguatan integritas, transparansi pemerintahan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam pengawasan publik menjadi bagian penting dalam menciptakan budaya antikorupsi yang berkelanjutan.

MAKI Jawa Timur juga menaruh perhatian besar terhadap pembentukan karakter generasi muda. Menurut organisasi tersebut, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas moral generasi penerus. Oleh sebab itu, nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan, keteladanan, dan budaya kehidupan sehari-hari.

Generasi muda tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga integritas, kepedulian sosial, dan semangat kebangsaan yang kuat. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan yang membawa Indonesia menuju kemajuan tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa.

Selain isu korupsi, MAKI Jawa Timur juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan nasional di tengah keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, maupun pilihan politik harus dipandang sebagai kekayaan bangsa yang memperkuat persaudaraan, bukan sebaliknya menjadi sumber perpecahan.

Dalam konteks itulah Pancasila kembali menunjukkan relevansinya sebagai titik temu seluruh elemen bangsa. Pancasila menjadi rumah bersama yang mampu menyatukan berbagai perbedaan dalam satu tujuan besar, yaitu mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat.

Momentum Hari Lahir Pancasila 2026 menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun bangsa belum selesai. Tantangan zaman terus berubah, namun nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi Indonesia tetap sama. Persatuan, gotong royong, kejujuran, dan keadilan harus terus dijaga agar cita-cita kemerdekaan dapat diwujudkan secara nyata.

Melalui peringatan ini, MAKI Jawa Timur mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai kompas moral dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat integritas dalam setiap tindakan, serta berani melawan segala bentuk korupsi yang menghambat kemajuan bangsa.

Dari Sidoarjo, pesan kebangsaan itu kembali ditegaskan: Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak slogan, melainkan lebih banyak keteladanan. Ketika nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam tindakan, maka persatuan akan semakin kokoh, keadilan akan semakin nyata, dan Indonesia akan melangkah lebih pasti menuju masa depan yang bersih, berdaulat, maju, dan bermartabat. (Abie)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *