SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 9 yang terletak di Kecamatan Genteng Kota Surabaya mewujudkan komitmennya dalam memperkuat pola asuh anak baik di sekolah maupun di rumah. Hal tersebut terbukti dengan suksesnya kegiatan parenting bertajuk ‘Mendampingi Generasi Emas Tanpa Cemas’ bagi wali murid kelas sepuluh dan sebelas dalam pola mengasuh anak-anak mereka.
Latar belakang kegiatan ini diadakan adalah dikarenakan pecahnya kericuhan di Surabaya pada akhir Agustus 2025, akibat demo yang bahkan menyebabkan Gedung Negara Grahadi terbakar tempo hari.
Catatan Komnas Perlindungan Anak (PA) Kota Surabaya menyebut kericuhan tersebut melibatkan pelajar dari puluhan SMA/SMK hingga SMP, meski SMAN 9 memastikan tidak ada siswanya yang ikut terlibat.
Kegiatan berlangsung terbagi menjadi dua sesi yakni pagi dan siang, yang diikuti para wali murid kelas X dan XI Dengan masing-masing menghadirkan dua pembicara berbeda, yakni Wakil Ketua Komnas PA Jawa Timur Syaiful Bachri dan Psikolog Anak Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Surabaya, Asteria Ratnawati.
Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah
Ditemui secara terpisah, Waka Kesiswaan SMAN 9, Sutartik menyampaikan, bahwa kegiatan parenting ini merupakan agenda rutin yang dirancang untuk mempererat hubungan antara sekolah, orangtua, dan masyarakat agar terjalin sinergi yang kuat.
“Kami meminta dukungan penuh, baik soal dana, pergaulan anak di luar, maupun hubungan anak-anak dengan guru. Semua perlu bersinergi,” ungkap Sutartik, Rabu (24/9/2025).
Oleh karenanya, diharapkan melalui kegiatan ini para wali murid yang juga merupakan orang tua dari masing-masing anaknya bisa memepererat hubungan mereka. Sehingga, pola asuh anak dapat diperkuat pengawasannya agar tidak ikut ke arus yang berbahaya.
Pada sesi pertama atau sesi pagi kegiatan diawali dengan sambutan Plh. Kepala Sekolah SMAN 9 Sukirin Wikanto yang juga diketahui merangkap menjadi Kepala SMAN 5 Surabaya. Selanjutnya, diisi oleh sambutan Ketua Komite SMAN 9, Suli Da’im.
Lalu, parenting dilanjutkan dengan para wali murid mengikuto sesi paparan tim kurikulum tentang lima kriteria kenaikan kelas bagi siswa. Mereka juga diajak berdiskusi tentang pemilihan kegiatan wisata bagi siswa keluar kota, di antaranya ke Surabaya, Malang, atau Yogyakarta.
Sementara itu, Bendahara BOS SMAN 9, Koekoeh Soebagijo, memastikan pihak sekolah menyiapkan langkah preventif agar siswa tidak terlibat dalam zona rawan konflik. Salah satunya melalui absensi berbasis Share Loc atau pembagian lokasi secara langsung melalui aplikasi WhatsApp.
“Anak-anak wajib shareloc ke wali kelas sampai pukul delapan malam. Setelah itu, tanggung jawab kami kembalikan ke orang tua,” kata Koekoeh.
Pentingnya Literasi Digital Antara Orang Tua dan Anak
Dalam sesi inti, Wakil Ketua Komnas PA Jawa Timur Syaiful Bachri menyoroti lemahnya komunikasi antara orang tua dan anak di era digital sebagai pemicu utama pelajar mencari pola di luar rumah hingga rawan terseret aksi negatif. Sehingga Dia menilai literisi digital bagi orang tua dan anak sangat penting.
“Ketidak adanya komunikasi yang baik membuat anak mencari lingkungan lain. Itulah yang memicu keterlibatan mereka dalam demo kemarin,” ujar Syaiful.
Dirinya menegaskan orang tua tidak boleh gagap teknologi, mengingat anak hidup di era digital. Maka mereka harus hadir sebagai sahabat yang membekali anak dengan akhlak, tanggung jawab, dan disiplin.
“Didiklah anak sesuai zamannya. Karena mereka akan hidup di masa yang berbeda dengan kita,” pesan Syaiful, mengutip ungkapan terkenal dari sosok Khulafaur Rasyidin Ali bin Abi Thalib.
Dengan suksesnya kegiatan parenting ini, diharapkan SMAN 9 dapat meningkatkan kesadaran orang tua bahwa penguatan karakter pada anak tetap menjadi benteng utama. Sinergi sekolah dan keluarga, melalui parenting ini diyakini mampu mencetak generasi emas yang tangguh menghadapi tantangan sosial di masa depan. (vin/)
Dinas KOMINFO JATIM






