SUMENEP, Nusantaraabadinews.com – Upaya peningkatan layanan kesehatan jiwa kembali menjadi perhatian dalam Giat Yankes Bergerak di Pulau Giligenting. Melalui skrining, penyuluhan, hingga pendampingan pasien, tim kesehatan berupaya memastikan layanan kesehatan jiwa di wilayah kepulauan berjalan komprehensif.
Ketua Divisi Pelayanan IPKKI Jawa Timur, Sri Suhartatik, S.Kep., Ns., M.Si., pada Rabu (19/11/2025) menegaskan pentingnya layanan kesehatan jiwa bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk remaja, ibu hamil, hingga ODGJ.
“Kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Karena itu, edukasi dan deteksi dini harus terus dilakukan, termasuk di wilayah kepulauan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa layanan yang diberikan mencakup pembinaan, penyuluhan, serta skrining untuk menemukan gejala sedini mungkin. “Harapannya masyarakat semakin memahami pentingnya dukungan dan akses layanan kesehatan jiwa di tingkat dasar,” imbuhnya.
Kegiatan dimulai dengan penyuluhan di Balai Desa Aenganyar yang dihadiri 13 peserta, terdiri atas 12 pasien gangguan jiwa dan satu keluarga pasien pasung, Tim juga melakukan skrining ibu hamil untuk mendeteksi gejala depresi yang kerap tidak disadari namun berdampak besar bagi kesehatan ibu dan bayi.
Di SMP Negeri 1 Gili Genting, Desa Galis, skrining dilakukan kepada 51 siswa. Hasilnya, 15 siswa terindikasi mengalami depresi dan kecemasan, sementara 36 lainnya berada dalam kategori normal. Siswa yang terindikasi membutuhkan dukungan lanjutan akan mendapatkan pendampingan dari puskesmas.
Sementara itu, di MA An Nur Desa Gedugan, skrining diikuti 37 siswa. Terdapat 13 siswa terindikasi depresi dan cemas, sementara 24 siswa lainnya berada dalam kondisi normal.
Tim Yankes Bergerak melanjutkan kegiatan kunjungan rumah kepada 1 pasien pasung dan 1 pasien ex-pasung. Ns. Alfunnafi’ Fahrul Rizzal, M.Kep., Sp.Kep.J., dari Tim Teknis Penanganan Masalah Kesehatan Jiwa Masyarakat, menekankan pentingnya peran keluarga dalam proses pemulihan.
“Family psikoedukasi sangat penting agar awareness keluarga meningkat. Lepas pasung bukan hanya soal terbebas dari belenggu, tetapi juga membutuhkan pendampingan intens dari lingkungan, terutama keluarga,” ujarnya.
Di lapangan, beberapa kendala masih ditemui, seperti tenaga kesehatan yang belum mengikuti Pelatihan Kesehatan Jiwa Terpadu serta persediaan obat yang belum mencukupi.
Ia menjelaskan, penanganan pasien diarahkan pada dua aspek: pengendalian tanda dan gejala serta kepatuhan minum obat. “Pasien tidak serta-merta sembuh setelah diberi obat. Ada aspek bersih diri yang harus diperhatikan. Jika keluarga ikut membantu, hasilnya akan jauh lebih baik,” jelasnya.
Masalah pasien umumnya dipicu kondisi keluarga dan lingkungan. “Ada pasien yang ditinggal keluarganya, ada yang diselingkuhi pasangan, dan ada pula faktor lingkungan lainnya,” terangnya.
Ia menambahkan, keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan terapi medis, tetapi juga dukungan sosial. Selama ini wilayah kepulauan masih sangat bergantung pada layanan berbasis rumah sakit di Jawa yang memerlukan biaya tinggi. “Dengan pendekatan berbasis masyarakat, biaya lebih rendah dan risiko lebih kecil, namun hasilnya dapat lebih efektif.” pungkasnya. (byu/hjr)
Dinas KOMINFO JATIM






