SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Suasana malam di pusat Kota Surabaya mendadak berubah mencekam setelah seorang pria muda berinisial R.O. (21) ditemukan meninggal dunia usai diduga meloncat dari lantai 20 sebuah hotel di kawasan Jalan Basuki Rahmat, Sabtu (2/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.
Peristiwa tragis tersebut terjadi di Hotel Gold Vitel, tepatnya di area kafe lantai atas yang dikenal sebagai salah satu lokasi favorit pengunjung untuk menikmati panorama kota dari ketinggian.
Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, korban diketahui tiba di lantai 20 sekitar pukul 21.43 WIB. Setibanya di kafe, korban sempat memesan makanan berupa fruit garden salad dan memilih duduk di area teras.
Seorang pelayan yang bertugas menyebut tidak ada tanda-tanda mencurigakan dari perilaku korban sebelum kejadian.
“Korban terlihat makan seperti biasa di teras kafe,” ujar saksi.
Namun, situasi berubah drastis hanya dalam hitungan menit. Petugas keamanan yang berjaga di pintu keluar mendengar suara benturan keras dari arah luar bangunan. Setelah dilakukan pengecekan, korban ditemukan tergeletak di area parkir lobi hotel.
Petugas keamanan segera melaporkan insiden tersebut kepada manajemen hotel dan menghubungi layanan darurat 112. Informasi kemudian diteruskan ke Polsek Genteng.
Tim Inafis Polrestabes Surabaya langsung diterjunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil pemeriksaan awal, aparat menduga korban meninggal dunia akibat bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 20.
Meski demikian, kepastian penyebab kematian masih menunggu hasil visum luar dan autopsi.
Jenazah korban telah dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Jawa Timur untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Korban diketahui berinisial R.O., laki-laki berusia 21 tahun, kelahiran Semarang, 30 Oktober 2004. Ia berdomisili di Sukorejo, Saradan, Kabupaten Madiun, dan belum memiliki pekerjaan tetap.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, korban sempat menjalani perawatan di rumah sakit jiwa di Bangli, Bali, pada Oktober 2025 selama satu bulan. Setelah itu, pada November 2025, korban sempat mondok di sebuah pesantren di wilayah Ponorogo.
Namun, pada bulan ketiga, korban dilaporkan meninggalkan pesantren tanpa sepengetahuan pihak pengasuh. Sejak saat itu, komunikasi dengan keluarga terputus.
Keluarga sempat menerima informasi bahwa korban bekerja di Surabaya, namun tidak mengetahui secara pasti lokasi pekerjaan maupun tempat tinggalnya.
Pihak keluarga menduga korban mengalami gangguan kejiwaan atau depresi yang menjadi salah satu faktor pemicu peristiwa tragis tersebut.
Hingga kini, kepolisian masih melakukan pendalaman dengan mengumpulkan keterangan saksi tambahan serta menelusuri aktivitas korban sebelum kejadian.
Dugaan sementara mengarah pada faktor pribadi, namun penyidik belum mengambil kesimpulan final.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan perlunya perhatian terhadap kesehatan mental, khususnya di kalangan usia muda yang menghadapi tekanan kehidupan perkotaan yang semakin kompleks.






