SURABAYA, Nusantaraabadinews.com — Bulan Oktober memiliki makna khusus bagi umat Katolik karena secara tradisional dikenal sebagai bulan yang didedikasikan untuk doa Rosario. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa, permenungan, serta keteladanan iman Bunda Maria dalam menjalani kehidupan.
Semangat tersebut disampaikan Kepala SMAK Frateran Surabaya, Fr. William Satel Sura BHK, S.Pd., M.M., yang mengajak umat untuk menjadikan doa Rosario sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, baik secara pribadi maupun bersama keluarga.
Menurut Fr. William, Oktober juga menjadi momentum untuk mengenang dan merenungkan kedukaan Bunda Maria sekaligus perjalanan sengsara Yesus Kristus. Melalui doa Rosario, umat diajak tidak sekadar mengucapkan rangkaian doa, tetapi juga menghadirkan suasana refleksi dan permenungan atas karya keselamatan Tuhan.
“Oktober sebagai bulan devosi kepada Bunda Maria yang berduka cita. Marilah kita membuat doa Rosario setiap hari dalam hidup kita, dalam keluarga kita, sambil tersenyum dan merenungkan sengsara Putra terkasih Bunda Maria, Ratu Rosario Fatima,” ungkap Fr. William.
Ia menekankan bahwa doa Rosario dapat menjadi sarana sederhana untuk membangun kehidupan rohani sekaligus mempererat hubungan antar anggota keluarga. Di tengah berbagai kesibukan dan tantangan kehidupan sehari-hari, keluarga dapat menyediakan waktu khusus untuk berdoa bersama.
Doa bersama, menurutnya, bukan hanya menjadi bentuk ungkapan iman, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi keluarga untuk saling menguatkan, membangun komunikasi, serta menumbuhkan kepedulian satu sama lain.
Dengan meluangkan waktu untuk berdoa Rosario, setiap anggota keluarga diajak untuk sejenak meninggalkan kesibukan dan menghadirkan ketenangan batin. Peristiwa-peristiwa dalam Rosario dapat direnungkan sebagai bagian dari perjalanan iman, termasuk sukacita, penderitaan, wafat, dan kebangkitan Kristus.
“Fr. William juga mengajak umat agar menjalankan devosi tersebut dengan penuh sukacita. Doa tidak harus selalu dilakukan dalam suasana yang berat, melainkan dapat menjadi bagian dari kehidupan yang dijalani dengan penuh harapan, ketulusan, dan rasa syukur.
Ajakan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan beriman tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan keagamaan pada waktu-waktu tertentu, tetapi juga melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks keluarga, kebiasaan berdoa bersama juga memiliki nilai pendidikan yang penting. Anak-anak dapat belajar mengenai ketekunan, penghormatan terhadap orang tua, kepedulian terhadap sesama, serta pentingnya menyediakan waktu untuk refleksi dan kehidupan spiritual.
Sementara itu, lingkungan pendidikan juga memiliki peran dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Sebagai lembaga pendidikan, SMAK Frateran Surabaya tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.
Semangat doa dan permenungan di bulan Rosario diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun pribadi yang memiliki kepedulian, rendah hati, mampu menghargai sesama, serta memiliki kekuatan batin dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Bagi umat Katolik, Rosario sendiri merupakan bentuk devosi kepada Bunda Maria yang mengajak umat untuk merenungkan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Yesus Kristus. Karena itu, penghayatan doa Rosario tidak berhenti pada pengulangan doa, tetapi diarahkan pada permenungan terhadap perjalanan hidup dan karya keselamatan Kristus.
Momentum bulan Oktober dengan demikian dapat dimanfaatkan umat untuk memperbarui kehidupan doa. Dimulai dari hal sederhana, seperti meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk berdoa secara pribadi maupun bersama keluarga.
Pesan Fr. William tersebut menjadi ajakan untuk menjadikan bulan Oktober bukan sekadar momentum devosi tahunan, melainkan kesempatan memperkuat kebiasaan doa yang dapat terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat doa Rosario, umat diharapkan semakin mampu menjalani kehidupan dengan penuh harapan, keteguhan hati, serta kasih kepada Tuhan dan sesama. Bunda Maria pun menjadi teladan dalam kesetiaan, ketabahan, dan penghayatan iman di tengah berbagai peristiwa kehidupan.
Melalui doa yang dilakukan dengan tulus dan penuh permenungan, keluarga diharapkan semakin menjadi tempat bertumbuhnya nilai kasih, persaudaraan, kedamaian, dan penguatan iman bagi setiap anggotanya. (Abie)






