Hadapi Kemarau Panjang, Petani Tembakau Tulungagung Ikuti Sekolah Lapang

  • Whatsapp
Screenshot 20261009 010808 WhatsApp

TULUNGAGUNG, Nusantaraabadinews.com – Kondisi kemarau panjang yang terjadi tahun ini justru menjadi momentum yang cukup menguntungkan bagi petani tembakau di Kabupaten Tulungagung. Minimnya curah hujan dinilai sesuai dengan kebutuhan tanaman tembakau, sehingga pertumbuhan dan kualitas daun berpotensi lebih optimal.

Untuk memastikan tanaman tembakau tetap tumbuh dalam kondisi terbaik, Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung menggelar Sekolah Lapang Tembakau bagi petani di lima kecamatan sentra produksi tembakau.

Kelima kecamatan tersebut yakni Kecamatan Gondang, Pakel, Campurdarat, Boyolangu, dan Sumbergempol.

Program Sekolah Lapang Tembakau tahun 2026 tersebut mendapat dukungan anggaran dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Kabupaten Tulungagung.

Kegiatan dilaksanakan di lima kelompok tani, masing-masing Poktan Sido Makmur Desa Rejosari, Kecamatan Gondang; Poktan Ngudi Mulyo, Desa Gesikan, Kecamatan Pakel; Poktan Mustika Tani, Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat; Poktan Hari Mulyo II, Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu; serta Poktan Pereng Makmur, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol.

Dalam pelaksanaan Sekolah Lapang, kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta sebelum mengikuti pembelajaran.

Pre-test tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui perkembangan pengetahuan dan pemahaman petani selama mengikuti enam kali pertemuan Sekolah Lapang yang telah dijadwalkan.

Salah satu materi utama yang diberikan kepada peserta adalah pengolahan lahan untuk tanaman tembakau. Materi tersebut dinilai penting karena pengolahan lahan menjadi salah satu tahapan yang sangat menentukan pertumbuhan sekaligus kualitas tanaman.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Drs. Suyanto, MM melalui Kepala Bidang Penyuluhan, Triwidyono Agus Basuki, SP, MM, menjelaskan bahwa pengolahan lahan tidak sekadar membalik tanah.

Menurut pria yang akrab disapa Okky tersebut, kondisi tanah harus dipersiapkan agar sesuai dengan kebutuhan tanaman tembakau.

“Pengolahan lahan tidak hanya sekadar membalik tanah, tetapi bagaimana menciptakan kondisi tanah yang ideal untuk pertumbuhan tanaman tembakau. Tanah harus gembur, memiliki aerasi yang baik, dan drainase yang lancar agar akar mampu berkembang optimal,” jelasnya.

Selain itu, kebersihan lahan dari gulma dan sisa tanaman juga menjadi perhatian. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi potensi serangan hama maupun penyakit.

“Jika pengolahan lahannya baik, maka pertumbuhan tanaman akan lebih seragam dan potensi hasil panen juga bisa meningkat,” imbuh Okky.

Ia menambahkan, Sekolah Lapang menjadi salah satu upaya pemerintah meningkatkan kemampuan petani melalui proses pembelajaran yang dilakukan secara langsung di lapangan.

“Kami berharap peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan serius dan menerapkan materi yang diperoleh pada usaha taninya masing-masing,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu petani dari Kelompok Tani Pereng Makmur, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Munari, mengaku mendapatkan manfaat dari pelaksanaan Sekolah Lapang tersebut.

Menurutnya, materi yang diberikan berkaitan langsung dengan kondisi yang dihadapi petani dalam kegiatan budidaya tembakau sehari-hari.

“Menurut saya kegiatan ini sangat membantu petani karena materi yang disampaikan langsung berkaitan dengan kondisi nyata di lapangan. Selama ini kami menanam berdasarkan pengalaman, tetapi lewat Sekolah Lapang ini kami jadi lebih memahami cara pengolahan lahan yang benar dan lebih efektif untuk tanaman tembakau,” ungkap Munari.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan sehingga hasil panen mendatang semakin baik, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas daun tembakau.

“Harapannya hasil panen nanti bisa lebih bagus dan kualitas daun tembakau juga meningkat,” tambahnya.

Okky menjelaskan, pendampingan pemerintah terhadap petani tembakau melalui DBHCHT tahun 2026 tidak hanya dilakukan melalui Sekolah Lapang.

Rangkaian program tersebut diawali dengan Bimbingan Peningkatan Kapasitas Kelompok Tani yang dilaksanakan di 23 desa pada lima kecamatan penghasil tembakau.

Selain itu, pemerintah juga melaksanakan demplot tembakau gagang sidi, kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Lapang dan diakhiri melalui Pelatihan Pascapanen Tembakau.

“Kehadiran pemerintah mendampingi petani tembakau dengan berbagai kegiatan ini bukan untuk mengajari petani tembakau yang sudah puluhan tahun bercocok tanam. Kami lebih banyak membagikan ilmu pengetahuan baru yang barangkali masih ada yang belum dipahami petani,” jelasnya.

Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni membantu petani meningkatkan kualitas budidaya hingga menghasilkan tembakau dengan mutu dan nilai jual yang lebih baik.

“Tujuannya satu, petani dapat mengolah lahan dan menjaga tanamannya dengan baik.

Kemudian di akhir pertanaman bisa menghasilkan tembakau yang bagus, baik dari segi hasil maupun harganya,” pungkasnya. (Sup)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *