Komunitas Semedi Ajaran Budi Surabaya Gelar Ritual Tulak Balak untuk Keselamatan Indonesia di Candi Jolotundo

  • Whatsapp
IMG 20261011 WA0007

MOJOKERTO, Nusantaraabadinews.com — Komunitas Semedi Ajaran Budi Kota Surabaya yang dipimpin Tjahja Tribinuka menggelar Ritual Tulak Balak untuk keselamatan bangsa dan negara di kawasan Candi Jolotundo, Sabtu Kliwon, 10 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB. Kegiatan spiritual tersebut diikuti 12 peserta sebagai bentuk doa, kepedulian, dan harapan agar Indonesia senantiasa terhindar dari marabahaya, bencana, serta berbagai ancaman yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, para peserta melakukan ritual dengan membakar kemenyan dan melantunkan mantra yang dikenal sebagai tembang Singgah-Singgah. Dalam tradisi spiritual yang dijalankan komunitas tersebut, tembang ini dimaknai sebagai ungkapan untuk menghalau buta kala serta demit atau kekuatan jahat agar menyingkir dan kembali ke tempatnya masing-masing.

Selain itu, ritual tersebut juga disertai permohonan agar kekuatan spiritual dari empat penjuru mata angin memberikan perlindungan dan kekuatan batin. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan pada harapan agar Negara Kesatuan Republik Indonesia senantiasa berada dalam keadaan aman, tenteram, dan dijauhkan dari segala bentuk marabahaya.

Tulak Balak sebagai Wujud Kepedulian terhadap Bangsa

Bagi komunitas Semedi Ajaran Budi, Ritual Tulak Balak tidak semata-mata dipandang sebagai praktik spiritual, tetapi juga sebagai ungkapan tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap keselamatan bersama. Ritual tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk menyatukan niat, perhatian, dan harapan demi kebaikan bangsa.

Kesadaran kolektif untuk memikirkan keselamatan negara, menurut perspektif komunitas, dapat menjadi salah satu bentuk dukungan moral dan psikologis bagi masyarakat. Ketika kepedulian terhadap bangsa dibangun melalui kegiatan bersama, muncul kesempatan untuk memperkuat solidaritas, menumbuhkan rasa kebersamaan, serta memelihara harapan di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dalam kajian sosiologi, pengalaman kebersamaan yang kuat dalam sebuah ritual kelompok kerap dikaitkan dengan konsep collective effervescence, yakni perasaan antusiasme dan keterhubungan emosional yang muncul ketika orang berkumpul dalam kegiatan bersama. Pengalaman tersebut dapat memperkuat rasa memiliki terhadap kelompok dan mendorong tumbuhnya semangat kebersamaan.

Mengelola Kecemasan melalui Kesadaran Batin

Ritual Tulak Balak juga dapat dipahami dari perspektif psikologi sebagai salah satu bentuk collective coping, yaitu upaya menghadapi tekanan atau ketidakpastian melalui dukungan dan keterlibatan kelompok.

Ketika manusia menghadapi persoalan yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, kegiatan spiritual dapat menjadi sarana untuk menata pikiran, menenangkan perasaan, dan membangun sikap yang lebih tenang dalam menghadapi keadaan. Dalam konteks ini, ritual menjadi ruang refleksi untuk mengolah kecemasan menjadi harapan, serta mengarahkan perasaan yang tidak menentu menuju ketenangan dan kesadaran diri.

Dalam falsafah Jawa, proses tersebut dapat dikaitkan dengan ungkapan ngendhaleni rasa, yaitu kemampuan mengendalikan dan mengelola perasaan agar seseorang tidak mudah dikuasai oleh kecemasan, kemarahan, maupun kegelisahan.

Meski demikian, manfaat psikologis dan sosial dari sebuah ritual tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pengaruh supranatural terhadap kejadian di luar kelompok. Makna spiritualnya tetap berada dalam ranah keyakinan dan pengalaman para peserta.

Memperkuat Solidaritas dan Semangat Gotong Royong

Selain dimensi spiritual dan psikologis, Ritual Tulak Balak juga menjadi sarana untuk memperkuat identitas kolektif komunitas. Kehadiran dan partisipasi para anggota mencerminkan kesamaan niat serta rasa memiliki terhadap kegiatan yang mereka jalankan bersama.

Kesadaran bahwa mereka sedang melakukan ikhtiar batin untuk keselamatan Indonesia membangun semangat kebersamaan yang dapat menjadi modal sosial. Solidaritas tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan ritual, tetapi juga diwujudkan melalui sikap saling membantu, menjaga kerukunan, menghormati sesama, dan berkontribusi positif bagi lingkungan.

Ketahanan bangsa tidak hanya bertumpu pada aspek keamanan dan pembangunan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan sosial, kemampuan masyarakat menghadapi tekanan, serta kuatnya semangat gotong royong. Dalam hal ini, kegiatan spiritual dapat menjadi salah satu ruang untuk memelihara harapan dan memperkuat hubungan antarmanusia.

Melalui Ritual Tulak Balak di Candi Jolotundo, Komunitas Semedi Ajaran Budi Kota Surabaya menyampaikan pesan bahwa kepedulian terhadap Indonesia dapat diekspresikan melalui doa, refleksi batin, dan kebersamaan. Harapan agar bangsa terhindar dari bencana dan marabahaya juga menjadi pengingat bahwa ikhtiar spiritual perlu berjalan beriringan dengan tindakan nyata, kepedulian terhadap lingkungan, kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta semangat menjaga persatuan.

Dengan demikian, Ritual Tulak Balak tersebut menjadi ekspresi keyakinan spiritual sekaligus momentum untuk meneguhkan solidaritas dan kepedulian terhadap keselamatan bangsa dan negara. (Red(

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *