Cegah Perundungan dan Hoaks, Unesa Bekali Siswa MA Muhammadiyah Paciran Keterampilan Abad 21

  • Whatsapp
Foto: Tak Sekadar Belajar Pancasila, Siswa di Paciran Diajak Kritis Hadapi Masalah Lingkungan
Foto: Tak Sekadar Belajar Pancasila, Siswa di Paciran Diajak Kritis Hadapi Masalah Lingkungan

LAMONGAN, Nusantaraabadinews.com- Tantangan dunia digital dan persoalan perundungan di lingkungan sekolah menjadi perhatian Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Unesa membekali siswa MA Muhammadiyah 02 Pondok Modern Paciran, Lamongan, dengan kemampuan literasi digital, public speaking, hingga pemahaman nilai-nilai Pancasila.

Kegiatan yang menyasar siswa kelas X hingga XII tersebut tidak sekadar memberikan materi pembelajaran. Para siswa juga diajak memahami persoalan sosial dan lingkungan di sekitar mereka, sekaligus membangun keberanian menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

Bacaan Lainnya

Program ini diketuai Silkania Swarizona, M.IP., dengan mengusung tema penguatan literasi Pancasila, literasi digital, dan keterampilan abad ke-21 untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4 dan 16 di Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Silkania mengatakan, penguatan kapasitas pelajar perlu dilakukan agar mereka tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki sikap kritis dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

“Pelajar saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Mereka perlu memiliki keberanian berbicara, kecakapan memilah informasi digital, serta kesadaran menghargai orang lain. Kemampuan tersebut harus berjalan seiring dengan penerapan nilai-nilai Pancasila,” jelasnya.

Ada tiga materi utama yang diberikan dalam kegiatan tersebut. Pertama, pelatihan public speaking dan literasi digital yang disampaikan Jauhar Wahyuni, M.I.Kom.

Materi ini membekali siswa agar mampu mengomunikasikan gagasan dengan percaya diri sekaligus lebih kritis dalam menyaring informasi sebelum membagikannya melalui media sosial.

Kedua, sosialisasi antiperundungan yang dibawakan Putri Aisyiyah, M.I.Kom. Dalam sesi ini, siswa diajak memahami pentingnya membangun hubungan sosial yang sehat, menghormati perbedaan, serta mencegah tindakan perundungan di lingkungan pendidikan.

Ketiga, penguatan literasi Pancasila oleh Ahmad Nizar Hilmi, S.AP., MPA. Menariknya, pembahasan tidak berhenti pada pemahaman lima sila Pancasila, tetapi dikaitkan dengan persoalan lingkungan melalui studi kasus urban heat island atau fenomena meningkatnya suhu kawasan perkotaan.

Isu tersebut menjadi pintu masuk untuk mengajak siswa berpikir kritis mengenai perubahan lingkungan dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kualitas lingkungan hidup. Diskusi juga diarahkan pada relevansi persoalan tersebut dengan kondisi Paciran sebagai kawasan pesisir.

Melalui pendekatan studi kasus, siswa diajak memahami bahwa nilai gotong royong, kepedulian sosial, dan keadilan tidak hanya menjadi konsep dalam pembelajaran, tetapi juga dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Program PKM Unesa ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 16 mengenai perdamaian, keadilan, serta kelembagaan yang tangguh.

Penguatan literasi digital, pencegahan perundungan, dan kepedulian lingkungan diharapkan dapat membentuk karakter pelajar yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga mampu berkomunikasi, menghargai perbedaan, dan mengambil peran positif di tengah masyarakat.

Dengan demikian, pendidikan Pancasila diharapkan tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, melainkan menjadi pedoman bagi siswa dalam menghadapi tantangan sosial, perkembangan teknologi, dan persoalan lingkungan di kehidupan sehari-hari.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *