SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Setelah 39 tahun berkiprah mengabdi sebagai angkasawan di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI), Yanto Prawironegoro resmi menanggalkan jabatan terakhirnya sebagai Kepala LPP RRI Surabaya. Ia melepas jabatannya itu, dalam agenda yang dihadiri oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur (Kadiskominfo Jatim), Sherlita Ratna Dewi Agustin, mewakili Gubernur Jatim.
Yanto Prawironegoro, merupakan sebuah nama yang sudah tak asing di dunia jurnalistik olahraga, khususnya RRI. Karirnya bermula dari keinginan menjadi reporter olahraga. Meskipun sempat menempuh pendidikan sebagai guru, jiwanya terpaut pada dunia radio. Dalam kesempatan itu, Yanto bercerita Ia memulai kariernya di RRI dari keinginan hati. Dirinya memang bercita-cita menjadi reporter, dan menjalaninya dengan sepenuh hati.
Selama kariernya, Ia menyebut, lebih dari 13 negara telah ia kunjungi untuk meliput berbagai event olahraga internasional, termasuk menjadi reporter haji selama tiga bulan di Tanah Suci pada 2005. “Kalau pekerjaan itu kita cintai, tidak terasa jadi beban,” ujar Yanto dalam sambutannya.
Meski tanpa kenal waktu dan hari libur, Ia mengatakan, pengabdiannya di RRI terutama di RRI Surabaya sebagai masa paling membanggakan. “Di Surabaya ini luar biasa. Teman-teman RRI profesional, dan dukungan pemerintah daerah juga sangat kuat. Kita sama-sama membangun negeri ini lewat informasi yang sampai ke masyarakat,” ungkapnya.
Setelah melepas jabatannya sebagai angkasawan bertahun-tahun di RRI ini, Yanto mengungkap, dirinya berencana kembali ke dunia akademis. “Mungkin saya kembali ke kampus untuk mengajar jurnalistik radio. Saya juga masih menjadi penguji wartawan radio. Dan tentu, waktunya kembali dekat dengan keluarga dan masyarakat setelah 10 tahun saya mobile dan jauh dari kampung,” katanya.
Kadiskominfo Jatim, Sherlita, memberikan apresiasi yang mendalam atas kontribusi Yanto dalam menjaga kualitas penyiaran publik di Jawa Timur. Menurutnya, peran Yanto dalam menjaga netralitas dan menyatukan masyarakat lewat siaran RRI sangat terasa. Apalagi di era digital, RRI tidak kehilangan relevansi, justru semakin strategis.
Ia membeberkan, bahwa berdasarkan data yang bersumber dari Good Stats, RRI tercatat sebagai stasiun favorit bagi 40% pendengar muda di Indonesia, dengan tingkat pendengar di Jawa Timur mencapai 39,9%. “Grand Final Bintang Radio Nasional 2024 yang digelar di Surabaya juga jadi bukti bahwa radio belum kehilangan pesonanya,” beber Sherlita.
Kesan serupa disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Surabaya, Hidayat Syah. Ia mengatakan, bahwa Bintang Radio adalag proyek yang bagus dan membuat banyak masyarakat tertarik.
“Saya kenal beliau sejak muda. Orangnya kalem, tapi geraknya cepat. Kegiatan Bintang Radio yang dulu diinisiasi Pak Fauzan, diteruskan dengan sangat baik oleh Pak Yanto,” kenang Hidayat.
Sesi terakhir acara pelepasan ini, dimeriahkan oleh tampilan ludruk khas Surabaya Guyon Waton, penyerahan cinderamata dari para undangan, hingga kejutan penampilan Pak Yanto sendiri yang menyanyikan dua lagu dangdut favoritnya.
Pelepasan ini mewujudkan bahwa kiprah karir Yanto tak hanya meninggalkan jejak profesional, namun Ia juga meninggalkan kesan yang dalam tentang dedikasi, keteladanan, dan kehangatan. Dirinya tak hanya membangun penyiaran, tapi juga hubungan yang erat dengan semua mitra kerjanya. (ta-so-vin/s)
Dinas KOMINFO JATIM






