JEMBER, Nusantaraabadinews.com – Desa Dukuhdempok kembali menggelar Festival Desa 2025, setelah sempat vakum sejak tahun 2019 akibat pandemi COVID-19. Kegiatan tahunan ini resmi dimulai pada 26 Juni 2025 dan akan berlangsung hingga 28 Juni 2025. Festival ini merupakan ajang untuk memperkenalkan potensi budaya dan ekonomi desa kepada masyarakat luas, sekaligus menjadi bentuk pelestarian tradisi dan peningkatan kesejahteraan warga.
Berbagai acara menarik digelar selama tiga hari penuh, mulai dari pertunjukan budaya seperti jaranan dan wayang kulit, hingga pameran UMKM dari warga Dukuhdempok dan sekitarnya. Kegiatan ini juga melibatkan kelompok-kelompok seperti PKK yang turut serta memeriahkan suasana dengan berbagai lomba dan kreativitas khas ibu-ibu desa.
Festival ini juga terbuka bagi masyarakat luar Dukuhdempok, baik sebagai pengunjung maupun peserta. Meski UMKM lokal menjadi prioritas, pelaku usaha dari luar desa juga diberi kesempatan berpartisipasi dengan catatan turut mendukung kegiatan, seperti dalam proses latihan dan persiapan acara. Warga Dukuhdempok sendiri difasilitasi secara gratis untuk berkontribusi dalam festival ini.
Kepala Desa Dukuhdempok, Bapak Miftahul Munir, S.H., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen desa untuk menumbuhkan potensi lokal dan mempererat ikatan sosial antarwarga. “Harapan kami, festival ini tidak hanya menampilkan budaya, tapi juga menjadi wadah tumbuhnya UMKM lokal. Kita ingin ekonomi warga bergerak dan budaya tetap lestari,” ujar beliau saat diwawancarai di sela-sela pembukaan acara.
Salah satu agenda puncak dari Festival Desa 2025 adalah Jalan Sehat dan Pagelaran Wayang Kulit yang akan digelar pada 28 Juni 2025. Acara ini diharapkan mampu menarik antusiasme masyarakat luas, sekaligus menjadi simbol kebersamaan dan semangat gotong royong yang menjadi nilai utama desa.
Momentum pelaksanaan festival ini juga bertepatan dengan tradisi “bersih desa”, yang kini dikemas lebih inklusif dengan nama Festival Desa. Menurut Bapak Munir, pengemasan ini dilakukan agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih tertarik ikut serta. “Kami tidak hanya ingin ritual keagamaan, tapi juga menampilkan seluruh potensi budaya kita. Bahkan ada istiqosah juga sebagai bentuk doa dan harapan untuk keselamatan desa,” tutupnya.
(Erman)






