Ngopi Sebagai Pelarian dari Masalah, Psikolog Ungkap Dampaknya

  • Whatsapp
Img 20260124 Wa0139

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Di balik anggapan sebagai sarana melepas penat dan mencari inspirasi, kebiasaan atau budaya ngopi justru berpotensi memperparah kecemasan apabila dijadikan pelarian dari tekanan akademik dan psikologis.

Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Diah Sofiah, menjelaskan bahwa konsumsi kafein dan budaya nongkrong di kafe bisa memperparah kecemasan apabila dijadikan pelarian dari tekanan sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya ini juga menyebut kecemasan berbeda dengan rasa takut. Rasa takut memiliki objek yang jelas, sedangkan kecemasan muncul terhadap sesuatu yang tidak pasti. Ketidakjelasan inilah yang membuat kecemasan terasa lebih berat secara emosional.

“Kecemasan sebenarnya bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik,” ujar Diah, Sabtu (24/01/26).

Dalam psikologi, kecemasan dibedakan menjadi state anxiety dan trait anxiety. State anxiety bersifat situasional dan sementara, sedangkan trait anxiety berkaitan dengan kecenderungan kepribadian ketika seseorang lebih sering merasa terancam.

Kecemasan melibatkan aspek kognitif, fisiologis, dan perilaku. Individu dipenuhi kekhawatiran berlebihan dan pikiran tentang kemungkinan terburuk. Secara fisik, tubuh merespons melalui jantung berdebar dan ketegangan otot.

Dari sisi perilaku, kecemasan kerap mendorong penghindaran terhadap situasi tertentu. Pola ini memberi rasa lega sementara, tetapi tidak menyelesaikan sumber masalah.

Diah mengatakan, kecemasan pada tingkat tertentu bersifat adaptif karena dapat meningkatkan kewaspadaan. Namun, kecemasan yang berlebihan justru berpotensi mengganggu fungsi sehari-hari.

Ia menyoroti kebiasaan ngopi yang sering dijadikan mekanisme koping yang keliru. Banyak orang datang ke kafe bukan hanya untuk minum kopi, melainkan mencari distraksi dan rasa aman sesaat.

“Penghindaran memang terasa menenangkan sementara, tetapi dalam jangka panjang justru memperkuat kecemasan,” katanya.

Diah juga mengingatkan bahwa DSM-5 mencatat kondisi caffeine intoxication dan caffeine withdrawal. Konsumsi kafein berlebihan dapat memicu gelisah, mengganggu tidur, dan memperburuk kecemasan.

Ia berharap masyarakat dapat memahami kecemasan secara ilmiah, mengenali pola perilaku yang tidak adaptif, serta mengembangkan strategi koping yang lebih sehat dan efektif dalam menghadapi tuntutan akademik maupun kehidupan sehari-hari.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *