Maki Jatim Ultimatum 2×24 Jam Copot kepala Sekolah : Teror di Ruang Kepsek SMKN 12 Surabaya, Insiden Penodongan Picu Desakan Tindakan Tegas Otoritas Pendidikan

  • Whatsapp
IMG 20260421 WA0033

Surabaya, Nusantaraabadinews.com — Dunia pendidikan di Kota Pahlawan diguncang insiden serius yang memicu kekhawatiran publik. Ketua Komite SMKN 12 Surabaya dilaporkan mengalami intimidasi berat hingga ditodong senjata api oleh oknum tak dikenal. Peristiwa tersebut terjadi di dalam ruang kepala sekolah, menjadikannya sorotan tajam terkait keamanan di lingkungan sekolah.

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa insiden berlangsung saat sejumlah pihak berada di lokasi, termasuk sosok yang disebut sebagai Mas Prata. Kejadian ini sontak menimbulkan ketegangan dan kekhawatiran di kalangan internal sekolah, mengingat lokasi kejadian berada di area yang seharusnya steril dan aman.

Purwanto, perwakilan dari pihak sekolah, menegaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya berhenti pada pelaku langsung. Ia menyebut perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap pihak-pihak terkait, termasuk kepemimpinan sekolah. Bahkan, muncul desakan agar kepala sekolah segera dievaluasi dan dicopot dari jabatannya karena dinilai lalai menjaga kondisi tetap kondusif.

Ketua Komite sekolah dalam pesannya kepada Ketua MAKI Jawa Timur menyampaikan kondisi yang memprihatinkan. Ia menegaskan bahwa situasi saat ini tidak aman dan membutuhkan perhatian serius dari pihak berwenang. Dalam waktu satu hingga dua hari ke depan, pihaknya bersama sejumlah elemen berencana mengambil langkah lanjutan apabila tidak ada respons konkret.

Secara hukum, tindakan penodongan dengan senjata api tanpa izin merupakan pelanggaran berat yang diatur dalam Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Regulasi tersebut mengancam pelaku dengan hukuman berat, termasuk pidana penjara hingga seumur hidup. Selain itu, penggunaan senjata tajam secara ilegal juga dapat dikenai sanksi pidana hingga 10 tahun penjara.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, belum memberikan pernyataan resmi. Sikap diam ini justru memicu sorotan publik yang menanti langkah tegas dari otoritas pendidikan.

Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satryo, secara terbuka menyampaikan ultimatum keras kepada Dinas Pendidikan Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak sekadar kasus intimidasi, melainkan menyangkut rasa aman gak dalam dunia pendidikan.

“Ini bukan hanya soal intimidasi, tetapi menyangkut keamanan di lingkungan sekolah. Kami mendesak agar segera dilakukan evaluasi menyeluruh dan langkah konkret,” tegasnya.

Lebih lanjut, MAKI Jawa Timur menyatakan tidak akan tinggal diam. Jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan nyata, mereka siap menggelar aksi lanjutan sebagai bentuk tekanan agar kasus ini ditangani secara transparan, tegas, dan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Insiden ini menjadi peringatan keras bahwa keamanan di lingkungan pendidikan tidak boleh dianggap remeh. Publik kini menanti langkah cepat dan tegas dari pihak berwenang untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *