Mojokerto, Nusantaraabadinews.com – 9 Juni 2026 | Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Kementerian Sosial dan Lingkungan kembali melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat dalam rangkaian Langkah Lestari 3.0. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan adalah Sosialisasi Kesehatan Mental bagi Siswa SMP yang dilaksanakan di MTs Sabilul Muttaqin pada Selasa (9/6/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan mental serta membekali siswa dengan keterampilan dasar dalam mengelola emosi dan menghadapi tekanan yang muncul selama masa remaja. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Sosial dan Lingkungan BEM FISIP UNAIR tidak bergerak sendiri. Guna menghadirkan edukasi yang kredibel dan mendalam, mereka berkolaborasi dengan Airlangga Safe Space (ASAP), sebuah badan semi-otonom di bawah naungan BEM KM Psikologi UNAIR yang fokus pada isu-isu psikologi dan kesejahteraan mental.
Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan yang memungkinkan seseorang untuk mengatasi tekanan hidup, menyadari potensi diri, belajar dan bekerja secara optimal, serta berkontribusi kepada masyarakat.
Kesehatan mental juga merupakan bagian dari hak asasi manusia yang perlu dijaga dan dipenuhi. Namun, kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor individu, keluarga, lingkungan sosial, hingga kondisi struktural yang dapat menjadi faktor pelindung maupun faktor risiko.
Masa remaja awal yang dialami siswa kelas 7 dan 8 SMP, yaitu pada rentang usia 12–14 tahun, merupakan fase transisi yang penuh dengan berbagai tantangan. Perubahan fisik akibat pubertas, tuntutan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, serta tekanan dari teman sebaya (peer pressure) sering kali memengaruhi kondisi emosional remaja. Di sisi lain, paparan media sosial yang semakin masif dapat memicu munculnya krisis kepercayaan diri (self-esteem) dan kecemasan sosial, sementara banyak remaja belum memiliki mekanisme koping (coping mechanism) yang sehat untuk mengelola berbagai emosi negatif tersebut.
Minimnya literasi kesehatan mental serta masih kuatnya stigma terhadap isu psikologis di lingkungan sekolah maupun keluarga menyebabkan banyak remaja enggan mencari bantuan ketika mengalami kesulitan. Oleh karena itu, sosialisasi kesehatan mental yang bersifat preventif dan promotif menjadi sangat penting untuk meruntuhkan stigma, menciptakan ruang aman (safe space), serta membekali siswa dengan keterampilan pengelolaan stres sejak dini agar mampu melewati masa transisi pubertas secara sehat dan tangguh. Kegiatan ini merupakan salah satu mata acara dari Langkah Lestari yang didukung oleh UNAIRSUSTAINACTION 2026.
Membangun Kesadaran Kesehatan Mental Sejak Dini
Kegiatan sosialisasi ini menyasar siswa kelas 7 dan 8 di MTs Sabilul Muttaqin. Materi yang disampaikan berfokus pada pengenalan konsep dasar kesehatan mental, pentingnya menjaga kesejahteraan psikologis, serta pemahaman bahwa setiap individu dapat mengalami berbagai emosi yang perlu dikenali dan dikelola dengan baik.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior) ketika menghadapi permasalahan psikologis. Para siswa diperkenalkan pada berbagai pihak yang dapat menjadi sumber dukungan, seperti guru Bimbingan Konseling (BK), orang tua, teman sebaya yang terpercaya, maupun tenaga profesional di bidang kesehatan mental. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan siswa memiliki keberanian untuk berbicara dan mencari pertolongan ketika membutuhkannya.
Pelaksanaan sosialisasi kesehatan mental di MTs Sabilul Muttaqin berjalan dengan baik dan mendapatkan respons yang sangat positif. Para siswa tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka menyimak materi dengan saksama, aktif mengajukan pertanyaan, serta terlibat dalam diskusi interaktif yang berlangsung selama kegiatan. Kehadiran tim pelaksana disambut dengan hangat oleh pihak yayasan, pengurus sekolah, serta jajaran guru yang dikoordinasikan oleh Ibu Viroh selaku guru pembimbing MTs Sabilul Muttaqin. Dukungan penuh dari pihak sekolah dan keterlibatan aktif para guru turut menciptakan suasana belajar yang kondusif, menyenangkan, dan jauh dari kesan kaku sehingga siswa merasa lebih nyaman untuk mengekspresikan pendapat maupun pengalaman mereka.
Dampak Kegiatan dan Dukungan terhadap SDGs
Melalui pendekatan psikoedukasi yang menyasar kelompok remaja ini, dampak nyata yang langsung terlihat adalah meningkatnya pemahaman siswa terkait konsep kesehatan mental. Setelah mengikuti kegiatan, para peserta tidak lagi memandang isu kesehatan mental sebagai sesuatu yang tabu atau identik dengan kelemahan pribadi. Mereka mulai memahami bahwa stres dan berbagai emosi yang muncul selama masa pubertas merupakan hal yang wajar, selama dapat dikenali dan dikelola dengan cara yang sehat.
Selain itu, siswa juga memperoleh pengetahuan mengenai cara mengenali emosi diri sendiri, memvalidasi perasaan yang mereka alami, serta mengetahui ke mana harus mencari bantuan yang aman apabila menghadapi tekanan psikologis di lingkungan sekolah maupun di rumah. Hal ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun generasi muda yang lebih tangguh, peduli terhadap kesehatan mental, dan berani mencari pertolongan ketika diperlukan.
Sebagai bagian dari implementasi semangat pengabdian masyarakat, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya peningkatan kesehatan mental remaja, serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penciptaan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan peserta didik secara optimal. Melalui edukasi kesehatan mental sejak dini, diharapkan siswa mampu tumbuh menjadi individu yang sehat secara fisik maupun psikologis serta siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan. (Red)
Penulis: Frietania Aulia Hartanti






