SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Samsuri Ketua Caretaker PTMSI Kota Surabaya yang juga merupakan Ketua Pencab Ikatan Motor Indonesia Kota surabaya dan Juga Ketua Bidang Organisasi di KONI Kota Surabaya, mulai melakukan langkah-langkah konsolidasi organisasi dengan melakukan verifikasi data Anggota klub PTMSI, Data Pelatih dan atlet dan Sarana prasarana tempat latihan pembinaan sebagai dasar penataan kepengurusan yang lebih profesional.
Samsurin menjelaskan, setelah menerima Surat Keputusan (SK) sebagai Ketua Caretaker PTMSI Kota Surabaya pada 3 Juli 2026, dirinya langsung bergerak melakukan Konsolidasi Keanggotaan Verifikasi dan validasi terhadap klub-klub yang selama ini menjadi bagian dari PTMSI Kota Surabaya maupun klub yang mengajukan permohonan bergabung sebagai anggota.
Selama sembilan hari, mulai 4 hingga 12 Juli 2026, Samsurin bersama tim melakukan kunjungan langsung ke sejumlah klub Persatuan tenis meja yang tersebar di berbagai wilayah Surabaya. Kunjungan tersebut bertujuan memastikan kondisi organisasi, fasilitas latihan, jumlah atlet, pelatih, hingga kebutuhan pembinaan di lapangan.
Beberapa klub yang dikunjungi di antaranya PTM CLS Cahaya Lestari di Jalan Kertajaya Indah, PTM Sahabat di kawasan Komplek Mall Gaza Kapas Krampung, PTM Sasana Bhakti (Sakti) di bascamp jagalan, PTM Rajawali dipusat latihan jl buduran samping pasar atom, PTM Cheng Hoo di gedung sarana olahraga Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo, PTM HCIYS Harapan Cerah Insan Yang Sejati. berlatih di lantai 8 Gedung Universitas Katolik Widya Mandala Kampus Dr. Ir. Soekarno MERR Surabaya, PTM CHYNBAR di kawasan pelemahan Tegalsari, hingga PTM Melati di Kedinding Kenjeran Surabaya.
“Hasil kunjungan ini memberikan gambaran secara Faktual bahwa kondisi pembinaan tenis meja di Surabaya tidak terorganisir secara baik. Kami ingin memastikan seluruh klub yang aktif benar-benar terdata dan tidak amburadul sehingga kedepan PTMSI Kota Surabaya memiliki Data Base yang memudahkan untuk memonitoring sumber daya atlet maupun pelatih.
Sehingga program organisasi maupun program prestasi memiliki integritas dengan apa yang di harapkan oleh KONI Kota surabaya . dan Juga Pengprov PTMSI Jatim . dan Target Walikota Surabaya untuk Porprov X/2027 ,” ujar Samsurin.
Setelah mendokumentasikan hasil kunjungan kami publikasikan melalui media sosial, muncul respons positif dari sejumlah klub yang selama ini belum terdaftar secara resmi di PTMSI Kota Surabaya. Beberapa di antaranya seperti PTM Macan Putih yang ada di daerah Sawahan, PTM Semut di Semolowaru, dan PTM S3, PTM Melati, menyatakan keinginan untuk bergabung dalam kepengurusan PTMSI Kota Surabaya.
Hal tersebut dinilai sebagai sinyal positif bahwa para pelaku olahraga tenis meja menginginkan organisasi yang terbuka, aktif, dan mampu mengakomodasi kepentingan seluruh klub , pelatih serta atlet.
Dari hasil kunjungan tersebut, Samsurin juga menemukan sejumlah persoalan yang selama ini menjadi kendala yang sabgat signifikan dalam pembinaan atlet tenis meja surabaya, Salah satunya adalah kerjasama dalam hal jam belajar mengajar antara siswa siswi (atlet) dengan pihak sekolah .
Seringkali jam belajar mengajar dan jam latihan berbenturan sehingga pihak sekolah tidak mengijinkan siswa siswi atlet untuk latihan , padahal atlet ini berpotensi untuk membawa bama baik daerah di pekan olahraga pelajar daerah , juga di pekan olahraga propinsi (porprov)
Klub kesulitan memperoleh dispensasi ketika harus mengikuti pemusatan latihan maupun kejuaraan.
disbudparorapar -Dinas pendidikan kota Surabaya, Sekolah terkait -KONI – pengcab dan wali atlet jika perlu walikota Surabaya turun tangan dalam hal ini.
Surabaya memiliki banyak atlet tenis meja yang telah menorehkan prestasi lokal daerah , di tingkat nasional hingga Asean bahkan Internasional.
Agenda agenda tornament tenis meja tingkat internasional sering digelar di kota pahlawan ini. Sangat disayangkan jika semuanya tidak berkomunikasikan dengan baik.
“Kita memiliki atlet-atlet yang luar biasa. Jangan sampai potensi mereka justru dimanfaatkan daerah lain karena kurangnya perhatian dan dukungan di Surabaya. Perlu ada sinergi antara sekolah, pemerintah, KONI, dan PTMSI agar atlet dapat berkembang tanpa harus terkendala administrasi pendidikan,” tegasnya.
Selain itu, Samsurin juga mendapatkan catatan serius bahwa kondisi sarana dan prasarana latihan yang kurang presentatif yang masih memerlukan perhatian serius. Tak layak sebagai kota peraih 9 kali digelar PORPROV . apalagi tahun depan sebagai tuan rumah jika fasilitas olahraganya kurang mendunia. Untuk itu Beberapa tempat latihan dinilai membutuhkan rehabilitasi maupun peningkatan fasilitas agar pembinaan atlet berjalan lebih optimal dan surabaya layak sebagai kota juara umum.
Klub seperti PTM Sakti,PTM Simbar , dan PTM Melati menjadi contoh lokasi latihan yang memerlukan perbaikan sehingga mampu memberikan kenyamanan bagi atlet saat berlatih.
Ke depan, PTMSI Kota Surabaya berencana menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya,KONI Kota Surabaya,serta pihak sekolah untuk membangun sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang memberikan ruang lebih luas bagi atlet pelajar untuk tetap berprestasi di bidang olahraga tanpa mengganggu proses pendidikan.
“Pembinaan atlet tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kolaborasi semua pihak agar atlet memperoleh dukungan penuh, baik dari sekolah, pemerintah maupun organisasi olahraga,” katanya.
Selama proses verifikasi, Samsurin juga berhasil menghimpun data pelatih dan atlet dari masing-masing klub. Data tersebut akan dibawa dalam forum pleno Muskotlub sebagai dasar penetapan peserta yang memiliki hak suara sekaligus penyusunan arah pembinaan PTMSI Kota Surabaya ke depan.
Ia berharap seluruh tahapan Muskotlub dapat berlangsung tanpa konflik, demokratis, transparan, dan menghasilkan kepemimpinan yang mampu membawa tenis meja Surabaya kembali berjaya.
“Saya berharap Musyawarah Kota Luar Biasa nanti menghasilkan ketua umum dan pengurus yang memiliki integritas, komitmen, menyediakan waktu, serta kemampuan membangun sinergi dengan berbagai lembaga demi kemajuan tenis meja Surabaya.
Yang paling penting adalah bagaimana kepentingan prestasi atlet menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Menurut Samsurin, validasi organisasi juga penting untuk memastikan atlet yang nantinya masuk dalam program pusat latihan cabang adalah yang benar-benar memenuhi kriteria berdasarkan prestasi dan kompetensi yang terukur dan termonitor.
Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan menghadapi berbagai agenda kejuaraan, termasuk target besar membawa Kota Surabaya meraih prestasi terbaik dan mempertahankan tradisi sebagai salah satu kekuatan tenis meja di Jawa Timur.
Dengan konsolidasi organisasi, pendataan klub secara menyeluruh, serta penguatan sinergi bersama pemerintah dan dunia pendidikan, PTMSI Kota Surabaya diharapkan memasuki babak baru pembinaan olahraga yang lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada prestasi atlet. (Yudi)






