SURABAYA, Nusantaraabadinews.com — Menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) bukan sekadar menjalankan program kerja dan menyelenggarakan berbagai kegiatan di lingkungan sekolah. Bagi para siswa, OSIS menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, serta membangun kerja sama dengan sesama siswa maupun para guru.
Hal tersebut dirasakan langsung oleh Catherina Grace, Ketua OSIS SMA Katolik Frateran Surabaya periode 2026/2027. Bagi Catherina, keterlibatannya dalam kepengurusan OSIS memberikan pengalaman berharga yang tidak hanya berkaitan dengan organisasi, tetapi juga membentuk kemampuan dirinya dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Selama menjabat dalam kepengurusan OSIS ini saya mendapatkan banyak pengalaman, terutama dalam kepemimpinan, kerja sama, dan komunikasi antar anggota serta para guru,” ungkap Catherina.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya tertarik untuk terus terlibat dalam kepengurusan OSIS. Ia melihat organisasi sekolah sebagai wadah yang dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menggali bakat yang dimiliki.
“Saya yakin bahwa dalam kepengurusan OSIS saya dapat mengembangkan kemampuan dan bakat yang saya miliki,” tambahnya.
Pengalaman Catherina dalam organisasi sekolah sebenarnya bukan hal yang baru. Sebelum dipercaya menjadi Ketua OSIS periode 2026/2027, ia telah menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua OSIS pada periode sebelumnya.
Dua periode keterlibatannya dalam kepengurusan OSIS tersebut menjadi perjalanan yang dinilai sangat bermakna. Dari pengalaman sebagai wakil ketua, Catherina mendapatkan berbagai pelajaran mengenai bagaimana membangun kerja sama, menjalankan tanggung jawab, serta memahami dinamika sebuah organisasi.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika dirinya dipercaya memimpin kepengurusan OSIS saat ini. Menurutnya, menjadi seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan keberanian dalam mengambil keputusan, tetapi juga kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama, mendengarkan anggota, serta mengarahkan organisasi menuju tujuan bersama.
“Pengalaman tersebut juga menjadi bekal bagi saya sebagai Ketua OSIS saat ini. Pastinya membutuhkan kemampuan dalam kepemimpinan, kerja sama, dan komunikasi,” jelasnya.
Pandangan senada disampaikan Wakil Ketua OSIS SMA Katolik Frateran Surabaya periode 2026/2027, Jovaclen Elfando Michaeel. Menurutnya, bergabung dalam OSIS seharusnya tidak dimaknai sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian dari guru maupun sekadar mengejar posisi dalam organisasi.
“Menurut saya, bergabung dalam OSIS bukan mencari perhatian dari guru, tetapi bagaimana kita mampu menjadi pemimpin yang menggerakkan, memotivasi, dan menyelaraskan anggotanya untuk tercipta kinerja efektif dalam mencapai tujuan bersama,” ujar Jovaclen.
Ia menilai, salah satu kunci keberhasilan kepengurusan OSIS periode ini adalah komunikasi. Keterbukaan antaranggota diperlukan agar setiap persoalan maupun gagasan dapat dibicarakan bersama.
“Kunci keberhasilan kepengurusan periode ini terletak pada komunikasi, bagaimana kita saling terbuka satu sama lain,” katanya.
Menurut Jovaclen, gagasan-gagasan kreatif tidak selalu muncul dalam suasana rapat resmi. Tidak jarang ide justru muncul dari percakapan sederhana antarsiswa ketika mereka sedang mempersiapkan sebuah kegiatan.
“Saya percaya bahwa ide luar biasa kerap lahir bukan dari rapat formal, tapi dari obrolan santai saat persiapan acara. Karena itu, kami mendorong setiap anggota untuk aktif berdiskusi dan berani mengambil peran,” ungkapnya.
Dalam menjalankan kepengurusan OSIS periode 2026/2027, Catherina mengakui terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi bersama. Salah satunya adalah menjaga komunikasi agar tetap berjalan dengan baik sekaligus meningkatkan inisiatif setiap anggota dalam melaksanakan tugas.
Komunikasi yang efektif menjadi bagian penting karena setiap program kerja melibatkan banyak pihak. Informasi mengenai pembagian tugas, persiapan kegiatan, jadwal, hingga pelaksanaan acara harus dapat disampaikan secara jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Di sisi lain, setiap anggota OSIS juga diharapkan tidak hanya menunggu instruksi, tetapi mampu memiliki inisiatif untuk terlibat dan mengambil peran. Dengan demikian, tanggung jawab dalam organisasi dapat dibangun secara bersama-sama.
Catherina menyebut, proses penyusunan hingga pelaksanaan berbagai program kerja juga menjadi sarana pembelajaran bagi seluruh pengurus. Setiap kegiatan memberikan pengalaman baru mengenai bagaimana sebuah rencana dipersiapkan, dikomunikasikan, dikerjakan, hingga dievaluasi.

“Dengan berjalannya program kerja yang telah kami semua susun, kami juga belajar lebih banyak mengenai dinamika dari proses penyusunan hingga pelaksanaan acara,” tuturnya.
Baginya, keberhasilan sebuah program kerja bukan hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari proses yang dijalani oleh para pengurus. Dari proses tersebut, para siswa belajar mengenai tanggung jawab, ketepatan waktu, koordinasi, penyelesaian masalah, serta pentingnya saling mendukung.
Ke depan, Catherina berharap kepengurusan OSIS dapat terus mempertahankan semangat berdiskusi dan meningkatkan inisiatif di antara para anggota. Ia ingin setiap pengurus memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan sekaligus mengambil tanggung jawab sesuai dengan perannya.
“Saya berharap mereka dapat tetap aktif dalam berdiskusi dan memiliki inisiatif antar satu sama lain,” harapnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memperhatikan setiap tahapan dalam penyusunan dan pelaksanaan program kerja. Menurutnya, perencanaan yang terstruktur akan membantu kegiatan berjalan lebih baik dan meminimalkan berbagai kendala ketika program dilaksanakan.
“Diharapkan untuk tetap memperhatikan proses penyusunan program dan pelaksanaan acara agar tetap terstruktur sehingga program kerja dapat terlaksana dengan baik dan lancar,” jelas Catherina.
Ia juga berharap OSIS SMA Katolik Frateran Surabaya tidak berhenti sebagai wadah kegiatan siswa, tetapi mampu berkembang menjadi organisasi yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekolah.
Dengan pengalaman yang dimiliki, Catherina bersama Jovaclen dan seluruh jajaran pengurus OSIS periode 2026/2027 berkomitmen membangun kepengurusan yang mengedepankan komunikasi, kolaborasi, tanggung jawab, dan keberanian mengambil peran.
Bagi mereka, OSIS merupakan tempat belajar menjadi pemimpin sejak dini.
Setiap program, tantangan, maupun keberhasilan yang dilewati bersama menjadi bagian dari proses membentuk karakter siswa agar mampu bekerja sama, berkomunikasi secara efektif, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
Semangat tersebut diharapkan dapat membawa kepengurusan OSIS SMA Katolik Frateran Surabaya periode 2026/2027 semakin solid dan produktif, sekaligus menghadirkan berbagai program yang mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga sekolah. (Abie)






