MADIUN, Nusantaraabadinews.com — Pemerintah Kabupaten Madiun terus mematangkan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan layanan kesehatan mata yang inklusif bagi masyarakat. Upaya tersebut menjadi perhatian penting seiring pendampingan Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) bersama Yayasan Paramitra yang telah memasuki tahun ketiga.
Komitmen itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, dr. Heri Setyana, saat membuka Pertemuan Lintas Sektor (Stakeholder) Program I-SEE, Rabu (24/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), institusi pendidikan, fasilitas kesehatan hingga organisasi penyandang disabilitas. Pertemuan menjadi momentum untuk menyusun strategi agar program yang selama ini didampingi Yayasan Paramitra dapat terus berjalan setelah masa pendampingan berakhir pada April mendatang.
Dalam sambutannya, dr. Heri Setyana mengapresiasi sinergi lintas sektor yang telah terbangun. Ia mengajak seluruh pihak merumuskan langkah terbaik agar layanan kesehatan mata tidak berhenti ketika masa pendampingan selesai.
“Perjalanan program bersama Yayasan Paramitra di Kabupaten Madiun sudah memasuki tahun ketiga. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk kita pikirkan bersama, bagaimana agar program yang telah dirintis ini tetap berlanjut dan tidak berhenti saat masa pendampingan usai,” ujar dr. Heri.
Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan mata tetap diperlukan meskipun isu tersebut belum masuk dalam jajaran program prioritas nasional seperti stunting, tuberkulosis (TBC), maupun diabetes.
Pemkab Madiun di bawah kepemimpinan Bupati Madiun Hari Wuryanto, kata dia, tetap memberikan perhatian terhadap persoalan gangguan penglihatan karena berkaitan erat dengan kualitas hidup dan produktivitas masyarakat.
“Selama ada niat dan kemauan, pasti ada banyak jalan. Namun jika tidak ada kemauan, pasti ada banyak alasan. Apa yang sudah kita capai jangan sampai surut—minimal harus kita pertahankan dan tingkatkan demi masyarakat Madiun,” tegasnya.
Selama hampir tiga tahun pelaksanaan sejak April 2022, Program I-SEE telah menghasilkan sejumlah capaian di Kabupaten Madiun.
Penguatan kapasitas sumber daya manusia dilakukan melalui pelatihan bagi tenaga kesehatan di 26 puskesmas, guru, kader kesehatan hingga insan media.
Program tersebut juga mendorong penerapan Disability Inclusive Development (DID) untuk meningkatkan kemampuan komunikasi serta akses pelayanan kesehatan bagi penyandang disabilitas.
Di tingkat masyarakat, intervensi dilakukan melalui skrining kesehatan mata bagi ribuan warga, pembagian kacamata gratis, penyediaan alat bantu uji visus hingga penanganan dan rujukan medis.
Sementara dalam penguatan kemandirian berbasis desa, telah dibentuk sembilan Desa Sehat Mata (Desmat) sebagai percontohan. Dari jumlah tersebut, empat desa disebut telah mengalokasikan anggaran khusus kesehatan mata melalui APBDes.
Direktur Yayasan Paramitra, Aisiah Sugianti, mengatakan pertemuan kali ini menggunakan metode evaluasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Para peserta tidak hanya menerima paparan laporan program, tetapi juga diajak melihat secara langsung pelaksanaan layanan dan dampaknya kepada penerima manfaat.
Peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk melakukan peninjauan interaktif di Puskesmas Sumbersari Saradan, Desa Sehat Mata Pucanganom Kebonsari, SMPN 1 Geger dan Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Melalui interaksi langsung dengan penerima manfaat di lapangan, para stakeholder dapat mendengarkan cerita, pengalaman, hingga tantangan secara riil. Dengan begitu, kolaborasi ke depan untuk mengoptimalkan program dapat terbangun lebih tepat sasaran,” jelas Aisiah.
Melalui kolaborasi lintas sektor bersama Bapperida, Dinas Sosial, Kementerian Agama, Bagian Hukum, fasilitas kesehatan dan komunitas, Pemkab Madiun mendorong agar sistem pelayanan kesehatan mata inklusif dapat terintegrasi secara berkelanjutan dalam kebijakan daerah.
Sementara itu, Sri Wulandari, orang tua Zenita, anak berusia 5 tahun dengan kondisi low vision yang bersekolah di SDLB Desa Karangrejo, Kecamatan Wungu, turut membagikan pengalaman keluarganya.
Sri menuturkan, Zenita mengalami gangguan penglihatan sejak lahir. Melalui dukungan pendaftaran dan fasilitasi dari Yayasan Paramitra, putrinya telah mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Mata Masyarakat (RSMM) Surabaya.
Zenita sempat dijadwalkan menjalani operasi. Namun, karena kondisi anak belum memungkinkan, tindakan tersebut harus ditunda.
“Zenita dijadwalkan menjalani tindakan operasi lanjutan saat usianya menginjak 6 tahun, semoga adanya perhatian dan bantuan dukungan pembiayaan dari Pemerintah Kabupaten Madiun untuk kelancaran proses operasi sang anak di masa mendatang,” harap Sri Wulandari.
Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keberlanjutan layanan kesehatan mata tidak hanya berkaitan dengan keberadaan program, tetapi juga kesinambungan akses, pendampingan, rujukan dan dukungan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dengan berakhirnya masa pendampingan Yayasan Paramitra pada April mendatang, Pemkab Madiun bersama para pemangku kepentingan kini tengah menyiapkan formulasi agar berbagai capaian Program I-SEE dapat dipertahankan dan dikembangkan melalui sistem pelayanan daerah.






