Mengenal Lebih Dekat Cak Bram: Dari Wartawan, Pemimpin Media hingga Ketua DPW PNN Jawa Timur

  • Whatsapp
IMG 20261006 WA0033

MSRI, SURABAYA, Nusantaraabadinews.com — Bismillahirrahmanirrahim. Bagi Slamet Pramono, yang akrab disapa Cak Bram, setiap perjalanan hidup pada hakikatnya merupakan bagian dari amanah yang diberikan Allah SWT.

Jabatan, kepercayaan, kesempatan, maupun pertemuan dengan banyak orang tidak semata-mata dipandang sebagai pencapaian, tetapi sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya dan kelak dipertanggungjawabkan.

Dengan prinsip tersebut, Cak Bram menjalani perjalanan dari seorang wartawan, kemudian menjadi Direktur Utama sekaligus Pemimpin Redaksi Media Suara Rakyat Indonesia (MSRI), hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua DPW Partai Nasionalis Nusantara (PNN) Provinsi Jawa Timur.

Baginya, bekerja di dunia pers maupun berada dalam ruang organisasi merupakan bagian dari ikhtiar untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Nilai-nilai kejujuran, amanah, persaudaraan, tanggung jawab dan kepedulian terhadap masyarakat menjadi prinsip yang berusaha ia pegang dalam menjalankan setiap peran.

Ia menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, setiap keberhasilan tidak semata-mata dipandang sebagai hasil kemampuan pribadi, tetapi juga sebagai buah dari doa, ikhtiar, dukungan keluarga, kerja bersama dan pertolongan Allah SWT.

Dari sudut pandang itulah perjalanan Cak Bram menjadi menarik untuk dilihat. Bukan hanya dari jabatan yang pernah dan sedang diembannya, tetapi dari proses panjang bagaimana seorang wartawan membangun media, membina insan pers, menghadapi dinamika organisasi, hingga memasuki ruang politik dengan membawa pengalaman dari dunia jurnalistik.

Berawal dari Dunia Jurnalistik

Bagi Cak Bram, jurnalistik bukan sekadar pekerjaan mencari dan menyampaikan berita.

Dunia pers ia pandang sebagai ruang pengabdian. Melalui MSRI, ia berupaya membangun media yang menempatkan informasi publik, profesionalitas, keberimbangan dan tanggung jawab jurnalistik sebagai bagian penting dari kerja redaksi.

Dalam perjalanan tersebut, Cak Bram tidak hanya berbicara mengenai bagaimana sebuah berita dipublikasikan, tetapi juga bagaimana seorang wartawan harus terus belajar, meningkatkan kemampuan dan memahami tanggung jawab profesinya.

Menurutnya, wartawan tidak boleh berhenti belajar hanya karena sudah memiliki pengalaman. Perubahan informasi yang begitu cepat menuntut insan pers untuk terus mengasah kepekaan, kemampuan menggali fakta, melakukan verifikasi dan menyajikan informasi yang memiliki nilai bagi masyarakat.

Prinsip ATM: Awasi, Tiru, Modifikasi

Salah satu cara yang diperkenalkan Cak Bram untuk mempermudah wartawan dalam belajar dan mengembangkan kemampuan jurnalistik adalah prinsip ATM: Awasi, Tiru, Modifikasi.

Namun ATM yang dimaksud bukanlah jalan pintas untuk mengambil karya orang lain. Prinsip tersebut merupakan metode pembelajaran agar wartawan dapat memahami proses kerja jurnalistik secara bertahap dan kemudian mampu menghasilkan karya sendiri.

Awasi: Peka Melihat Peristiwa dan Fakta

Tahap pertama adalah Awasi.

Menurut Cak Bram, wartawan harus memiliki kepekaan terhadap berbagai peristiwa yang memiliki nilai informasi dan kepentingan publik.

Mengawasi bukan berarti mencari-cari kesalahan.

Mengawasi berarti mencermati perkembangan suatu peristiwa, menggali fakta, mengidentifikasi persoalan, melihat berbagai kepentingan yang terkait, serta memahami konteks sebelum sebuah informasi disajikan kepada masyarakat.

Wartawan tidak cukup hanya menerima informasi dari narasumber, media sosial maupun sumber lainnya.

Setiap informasi harus ditempatkan sebagai bahan awal yang masih perlu diperiksa.

Periksa, konfirmasi dan verifikasi menjadi bagian penting sebelum informasi tersebut diolah menjadi berita.

Dengan cara itu, wartawan tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga menjalankan fungsi jurnalistik sebagai pencari dan penguji fakta.

Tiru: Belajar, Bukan Menjiplak

Tahap kedua adalah Tiru.

Namun, Cak Bram menegaskan bahwa meniru dalam proses pembelajaran jurnalistik bukan berarti menjiplak karya wartawan lain.

Wartawan dapat mempelajari bagaimana jurnalis profesional menentukan angle berita, mencari dan memilih narasumber, menggali data, menyusun fakta, membuat judul, menulis lead, hingga membangun struktur berita agar mudah dipahami pembaca.

Yang dipelajari adalah cara kerja, pola berpikir dan standar profesionalnya, bukan mengambil tulisan orang lain kemudian mengakuinya sebagai karya sendiri.

Dalam konteks ini, meniru merupakan tahap pembelajaran untuk memahami bagaimana sebuah karya jurnalistik yang baik dibangun.

Modifikasi: Kembangkan Menjadi Karya Orisinal

Tahap ketiga adalah Modifikasi.

Setelah mengawasi dan belajar dari berbagai karya jurnalistik, wartawan harus mampu mengembangkan informasi menggunakan kemampuan sendiri.

Fakta dapat diperdalam.

Narasumber dapat dikembangkan.

Data dapat diperiksa kembali.

Dokumen dapat ditelusuri.

Konteks dapat diperluas.

Dan sudut pandang jurnalistik dapat dibangun secara mandiri.

Pada tahap inilah wartawan diharapkan mampu menghasilkan karya jurnalistik yang orisinal dan memiliki nilai tambah bagi pembaca serta kepentingan publik.

Berita tidak berhenti pada sekadar mengikuti informasi yang sudah beredar, tetapi mampu menghadirkan fakta tambahan, konteks yang lebih lengkap, konfirmasi dari pihak terkait dan informasi yang lebih bermanfaat.

Bagi Cak Bram, proses tersebut pada akhirnya bermuara pada satu hal: wartawan harus mampu menghasilkan karya sendiri berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

ATM Bukan Jalan Pintas

Cak Bram menempatkan prinsip ATM bukan sebagai cara instan membuat berita, melainkan sebagai metode sederhana untuk mempercepat proses belajar seorang wartawan.

Awasi untuk membangun kepekaan.

Tiru untuk memahami cara kerja.

Modifikasi untuk menghasilkan karya sendiri.

Ketiganya harus tetap berada dalam koridor Kode Etik Jurnalistik, verifikasi, keberimbangan dan tanggung jawab kepada publik.

Dengan prinsip tersebut, wartawan yang masih belajar memiliki pola sederhana untuk meningkatkan kemampuan tanpa kehilangan identitas dan integritas jurnalistik.

Pemimpin yang Menekankan Disiplin Redaksi

Sebagai Direktur Utama sekaligus Pemimpin Redaksi MSRI, Cak Bram memberikan perhatian terhadap pembinaan dan disiplin internal organisasi media.

Baginya, profesionalitas wartawan tidak hanya diuji ketika berada di lapangan.

Komunikasi dengan redaksi, koordinasi, disiplin menjalankan tugas, ketepatan dalam menyampaikan laporan, kemampuan melakukan konfirmasi serta menjaga nama baik institusi merupakan bagian dari profesionalitas seorang jurnalis.

Membangun media, menurutnya, bukan hanya persoalan menerbitkan berita.

Ada organisasi di belakang sebuah berita.

Ada wartawan yang bekerja di lapangan.

Ada redaksi yang melakukan pengolahan informasi.

Dan ada tanggung jawab moral terhadap masyarakat yang menjadi pembaca.

Menjaga Prinsip “Perspektif • Akurat • Terpercaya”

MSRI memiliki identitas “Perspektif • Akurat • Terpercaya.”

Bagi Cak Bram, tiga prinsip tersebut harus diterjemahkan dalam kerja jurnalistik sehari-hari.

Perspektif berarti mampu melihat sebuah persoalan secara utuh dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

Akurat berarti setiap fakta harus diperiksa dan dikonfirmasi.

Sedangkan terpercaya berarti media harus mampu menjaga integritas dan kepercayaan publik melalui pemberitaan yang bertanggung jawab.

Dengan prinsip itu, kecepatan dalam memberitakan tidak boleh mengorbankan ketepatan.

Sebab menjadi media yang pertama memberitakan sebuah peristiwa tidak otomatis lebih penting daripada menjadi media yang mampu mempertanggungjawabkan informasi yang diberitakan.

Dari Ruang Redaksi ke Ruang Organisasi Politik

Perjalanan Cak Bram kemudian memasuki babak berbeda.

Pada 2026, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua DPW PNN Provinsi Jawa Timur.

Memasuki dunia politik berarti memasuki ruang yang berbeda dari jurnalistik.

Di dalam organisasi politik terdapat struktur, aturan internal, kaderisasi, konsolidasi, administrasi, legalitas serta proses organisasi yang harus dijalankan secara tertib.

Pengalaman panjang di dunia jurnalistik menjadi salah satu bagian dari perjalanan yang kemudian dibawanya ketika memasuki ruang organisasi politik.

Membangun PNN Jawa Timur Secara Bertahap

Dalam menjalankan amanahnya di PNN Jawa Timur, Cak Bram menekankan pentingnya membangun organisasi bukan sekadar berdasarkan nama dan struktur di atas kertas.

Menurutnya, organisasi membutuhkan struktur yang jelas, administrasi yang tertib, database anggota yang valid, kaderisasi, pendidikan politik serta komunikasi dengan masyarakat.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan organisasi membutuhkan proses.

Tidak cukup deklarasi.

Tidak cukup struktur.

Tidak cukup nama.

Organisasi harus memiliki kerja nyata, sistem dan kader yang memahami tanggung jawabnya.

Ketika Pers dan Politik Berada dalam Dua Ruang

Ada satu persoalan penting yang melekat pada perjalanan Cak Bram ketika menjalankan dua peran tersebut.

Sebagai Pemimpin Redaksi MSRI, ia memiliki tanggung jawab terhadap profesionalitas dan independensi kerja jurnalistik.

Sementara sebagai Ketua DPW PNN Jawa Timur, ia memiliki tanggung jawab politik-organisatoris.

Karena itu, batas antara aktivitas jurnalistik dan aktivitas politik menjadi hal penting untuk dijaga.

Media harus tetap menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional, sementara aktivitas politik dijalankan dalam kapasitas organisasi politik.

Dua ruang tersebut harus berjalan sesuai fungsi, aturan dan tanggung jawab masing-masing.

Bukan Sekadar Jabatan

Jika perjalanan Cak Bram dilihat dari satu sisi, yang tampak mungkin hanyalah sederet jabatan.

Namun di balik jabatan tersebut terdapat perjalanan panjang, tanggung jawab, dinamika organisasi serta tuntutan untuk terus belajar.

Sebagai wartawan, ia berhadapan dengan realitas masyarakat.

Sebagai pemimpin media, ia berhadapan dengan tanggung jawab menjaga institusi pers.

Sebagai pemimpin organisasi politik, ia berhadapan dengan konsolidasi, kaderisasi, struktur dan aspirasi politik masyarakat.

Ketiga ruang tersebut memiliki tantangan masing-masing.

Dan perjalanan itu masih terus berlangsung.

Dari Suara Rakyat hingga Ruang Kebangsaan

Nama Cak Bram kini berada pada dua ruang yang berbeda: ruang pers dan ruang politik.

Di ruang pers, ia memimpin MSRI dengan prinsip “Perspektif • Akurat • Terpercaya.”

Di ruang organisasi politik, ia menjalankan amanah sebagai Ketua DPW PNN Jawa Timur dengan agenda membangun struktur, memperkuat konsolidasi dan mempersiapkan organisasi menghadapi tahapan politik ke depan.

Namun pada akhirnya, perjalanan Slamet Pramono atau Cak Bram bukan hanya tentang bagaimana seseorang memperoleh posisi.

Lebih jauh dari itu, perjalanan tersebut adalah tentang bagaimana sebuah amanah dijalankan, bagaimana kritik dihadapi, bagaimana organisasi dibangun, serta bagaimana kepercayaan masyarakat dijaga.

Dari seorang wartawan, kemudian menjadi pemimpin media, hingga berada di ruang kepemimpinan organisasi politik, satu hal yang akan terus diuji adalah konsistensi antara prinsip, ucapan dan tindakan.

Sebab jabatan dapat diberikan.

Kepercayaan dapat diperoleh.

Tetapi keduanya hanya dapat dipertahankan melalui kerja, integritas, tanggung jawab dan konsistensi.

Pada akhirnya, bagi Cak Bram, perjalanan hidup bukan semata tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan dan seberapa baik amanah yang dipercayakan dapat dijalankan.

“Tidak selalu kaya, tetapi cukup.”

Sebuah prinsip sederhana yang menggambarkan cara memandang kehidupan: mensyukuri apa yang dimiliki, terus berikhtiar, tidak berhenti belajar, serta berusaha memberikan manfaat bagi sesama.

Slamet Pramono — Cak Bram.

Wartawan. Pemimpin Media. Ketua DPW PNN Jawa Timur.

Sebuah perjalanan yang masih terus ditulis oleh waktu, dengan doa, ikhtiar, amanah dan tanggung jawab. (Abie)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *