Jawa Timur Siap Bangkitkan Industri Kreatif, Heru MAKI Bentuk Wadah Besar Pelaku Ekonomi Kreatif

  • Whatsapp
IMG 20260531 WA0077

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Pertumbuhan industri kreatif di Jawa Timur terus menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi momentum penting lahirnya sebuah wadah besar yang mampu menyatukan berbagai sektor usaha kreatif agar lebih terorganisir, kuat, dan memiliki daya saing tinggi.

Berangkat dari semangat tersebut, Heru MAKI menggagas pembentukan “Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur” sebagai rumah besar bagi para pelaku ekonomi kreatif yang selama ini dinilai belum memperoleh perhatian dan dukungan maksimal dari para pemangku kebijakan.

Gagasan ini muncul seiring meningkatnya aktivitas industri kreatif di Jawa Timur, khususnya di Kota Surabaya yang kini mulai dilirik sebagai salah satu pusat industri perfilman nasional. Salah satu momentum yang menguatkan optimisme tersebut adalah proses syuting film horor nasional berjudul Zona Merah yang dilakukan di Surabaya sekitar satu bulan lalu.

Film yang dibintangi artis papan atas seperti Luna Maya dan Lukman Sardi itu menjadi bukti bahwa Surabaya memiliki potensi besar sebagai destinasi industri kreatif dan perfilman di Indonesia.

Selain itu, kiprah sutradara asal Jawa Timur, Bambang Driasmono, yang telah menghasilkan puluhan film layar lebar bergenre horor hingga mampu menembus pasar internasional di Malaysia, juga menjadi indikator kuat bahwa Jawa Timur memiliki sumber daya kreatif yang layak mendapatkan perhatian lebih luas.

Menurut Heru MAKI, sudah saatnya Jawa Timur memiliki organisasi yang mampu menjadi wadah bersama bagi seluruh pelaku usaha ekonomi kreatif dari berbagai sektor.

“Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur nantinya akan menjadi rumah besar bagi seluruh pelaku usaha kreatif mulai dari sutradara, produser film, production house, event organizer, vendor sound system, lighting, pengelola tempat hiburan, hingga berbagai profesi pendukung lainnya,” ujar Heru.

Tidak hanya itu, organisasi tersebut juga akan merangkul berbagai profesi dan pelaku usaha kreatif lainnya seperti wedding organizer, fotografer, videografer, pelukis, musisi, pekerja seni, hingga berbagai subsektor kreatif yang selama ini menjadi bagian penting dalam perputaran ekonomi masyarakat.

Heru menjelaskan, salah satu alasan utama dibentuknya organisasi ini adalah masih minimnya perhatian terhadap para pelaku ekonomi kreatif, padahal sektor tersebut memiliki kontribusi besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan roda perekonomian daerah.

Ia mencontohkan, dalam industri wedding organizer saja terdapat banyak tenaga kerja yang terserap, mulai dari waiter dan waitress, koki, dekorator, fotografer, videografer, musisi pengiring, penata rias, hingga petugas kebersihan.

Begitu pula dalam industri perfilman yang membutuhkan banyak tenaga kerja dengan beragam keahlian, mulai dari kru produksi, teknisi, tim artistik, editor, hingga tenaga pendukung lainnya.

“Pelaku ekonomi kreatif selama ini sering berjalan sendiri tanpa adanya dukungan yang memadai dari pemerintah. Karena itu diperlukan sebuah wadah yang mampu menjadi jembatan komunikasi dan perjuangan bersama,” tegasnya.

Keberadaan Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur nantinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat berhimpun para pelaku usaha kreatif, tetapi juga diharapkan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan sektor ekonomi kreatif di Jawa Timur.

Organisasi ini juga akan fokus pada pendampingan usaha, perlindungan hukum bagi pelaku ekonomi kreatif, hingga perlindungan tenaga kerja yang terlibat dalam berbagai kegiatan industri kreatif.

Lebih jauh, Rumah Besar Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan daerah melalui kontribusi nyata sektor kreatif yang semakin berkembang, inovatif, dan berdaya saing tinggi.

Dukungan terhadap penguatan sektor ekonomi kreatif sendiri mulai terlihat dari langkah Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menggagas penambahan nomenklatur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jawa Timur.

Penambahan frasa “ekonomi kreatif” tersebut dinilai sebagai sinyal positif sekaligus momentum kebangkitan bagi para pelaku usaha kreatif di Jawa Timur agar memperoleh ruang yang lebih luas dalam pembangunan daerah.

Dalam waktu dekat, organisasi Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur direncanakan segera diluncurkan secara resmi sebagai wadah kolaborasi antara pelaku usaha kreatif, masyarakat, dan pemerintah.

“Niat baik yang lahir dari kepedulian terhadap minimnya perlindungan dan dukungan bagi pelaku usaha ekonomi kreatif untuk kemudian bersatu dalam Rumah Besar Masyarakat Ekonomi Kreatif Jawa Timur, Insya Allah akan disambut baik untuk bersama-sama mengambil peran dalam pembangunan Provinsi Jawa Timur,” pungkas Heru MAKI. (Abie)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *