SURABAYA, Nusantaraabadinews.com — Rekoleksi menjadi saat bagi kita untuk berhenti sejenak dari aktivitas rutin dan merefleksikan hidup kita untuk menemukan kehendak Tuhan. Rekoleksi bukan sekedar mendengarkan ceramah agama atau moral, juga bukan renungan panjang atau ceramah kitab suci dan teologi.
Pengalaman hidup yang dirasakan oleh peserta rekoleksi itu sendiri yang menjadi objek yang ditelusuri dalam rekoleksi. “Belajar Dari Bunda Hati Kudus Untuk Menjadi Pribadi Yang 3B (Berkualitas, Berkepribadian dan Bersinergi)“ dengan tema ini SMA Frateran Surabaya mengadakan rekoleksi untuk kelas 10 karena mengingat bukan hanya Pendidikan secara akademik yang perhatikan tetapi juga Pendidikan rohani untuk membantu para siswa berkembang menjadi lebih baik dengan tuntunan Tuhan,’ Sabtu (11/5/2024).
Kegiatan dilaksanakan selama 1 hari di Aula SMAK Frateran, jalan Kepanjen 8 Surabaya, dengan tetap memperhatikan protokol Kesehatan sekolah dengan acara dimulai pukul 08.00 – selesai.
“Kegiatan ini turut hadir Fr. M. Pancasila. BHK, selaku pemateri dan guru Agama, Drs. A. Toto Widijarto serta Markus Fautubun, S. Pd. Untuk mengajak peserta didik untuk melihat dan merenungkan beberapa ayat dalam kitab suci, Dimana Allah menciptakan makhluk yang segambar/secitra dengan Allah, yang memiliki perasaan dan bisa melakukan suatu hal sesuai dengan kemampuannya. Dimana kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu bisa dikembangkan sesuai dengan bakat yang Tuhan berikan. Karena bagi Allah, sangat berharga lah makhluk ciptaan-Nya. Peserta didik juga diminta untuk mampu menghargai lingkungan sekitarnya, dimana dia mampu menghargai sekitarnya maka hal ini sama dengan kemampuannya untuk menghargai diri sendiri.
Siapakah aku? Aku adalah pribadi yang unik, belajar dari Bunda Hati Kudus untuk memiliki kualitas, kepribadian dan sinergi yang khas, memiliki cerita dalam hidupnya, dan aku yang mampu menentukan masa depanku. Aku yang bisa menerima diri dengan kelemahan dan kekuatan yang dimiliki, yakin dengan hal baik positif maupun negatif dalam diri. Dimana ketika kita menerima diri kita sendiri, kita akan memiliki kepribadian yang khas dalam diri kita (introvert atau extrovert).
“Lebih lanjut, Fr. William Satel Sura BHK, S. Pd. MM, selaku kepala sekolah SMAK Frateran Surabaya mengatakan, dan memberikan tayangan tentang seorang remaja yang menjadi model. Singkat cerita, model tersebut tidak berkembang di negaranya sendiri karena wajah yang dia miliki tidak mencerminkan seorang model pada umumnya, namun dia berhasil dan memiliki nama di kancah internasional dan menjadi salah satu model dari brand fashion terkenal,” ujar Fr. William.
Dari kisah tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa akhirnya dia berhasil memberikan cerita dalam hidupnya dan dia mampu menentukan atau meniti masa depan yang dia cita-citakan,” tuturnya.
Apa yang kita miliki disajikan permenungan berkaitan dengan seorang hamba yang diberi anugerah 5 talenta, 2 talenta, 1 talenta. Tuhan memberikan pilihan dalam hidup manusia (baik atau buruk). Mau diarahkan kemanakah hidup kita, mau ke arah yang baik atau buruk? Semua tergantung pada masing-masing pribadi. Jangan sampai salah memilih atau menentukan masa depan dalam hidup, dan diharapkan peserta didik mampu menentukan masa depan apa yang ingin mereka ukir dalam hidupnya, serta mengembangkan talenta yang dimilikinya.
Fokus yang harus ditanamkan adalah pada kelebihan yang dimiliki, bukan kelemahan yang ada dalam diri. Jika kita hanya berfokus pada kelemahan diri maka akan muncul rasa canggung, iri dan rendah diri di hadapan orang lain. Setidaknya kita mampu untuk berfikir positif supaya mampu menonjolkan kelebihan yang kita miliki dan tidak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan atas semua yang telah Tuhan berikan. Setelah semua hal itu mampu kita aplikasikan dalam hidup, maka akan muncul kepercayaan dalam diri kita.
Yang terakhir, Allah memberikan kita 3 (tiga) daya dalam hidup ini, yakni :
Daya Cipta : kekuatan untuk membuat, menciptakan sesuatu
Daya Rasa : kekuatan untuk merelakan sesuatu
Daya Karsa : kekuatan untuk melakukan kehendak, keinginan, karya, pekerjaan, dsb.
Melalui rekoleksi ini, peserta didik diharapkan bisa menemukan dirinya selalu berguna, karena setiap manusia memiliki perutusannya masing-masing. Selain itu juga selalu mampu bersyukur atas hidup yang dirasakan serta melihat bahwa Tuhan selalu menemani sehingga mereka tidak pernah merasa sendiri,” pungkasnya.
(Abie).






