TULUNGAGUNG, Nusantaraabadinews.com – Wilayah indonesia terkenal akan berbagai adat istiadat dan kesenian yang harus dilestarikan. Bulan Suro, yang dianggap sakral oleh sebagian masyarakat Jawa yang menganut kejawen, sering digunakan untuk menggelar berbagai kegiatan adat seperti genduri, bersih desa, hingga ruwatan.
Memasuki awal bulan Agustus, yang masih dalam bulan Suro, tepatnya pada hari Senin Wage malam Selasa Kliwon 29 Suro wuku Kurantil (05/08), Pemerintah Desa Jenglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, menggelar Genduri Adat dan juga Ruwatan.
Acara ini dihadiri oleh Kepala Desa Jenglungharjo beserta seluruh perangkat desa, Babinsa, Babinkamtibmas Desa Jenglungharjo, LPM, BPD, RT/RW, tokoh masyarakat, karang taruna, hingga para sesepuh desa.
Kepala Desa Jenglungharjo, Rudi Santoso, membenarkan bahwa kegiatan ini merupakan rutinitas tahunan yang mempunyai tujuan untuk melestarikan budaya lokal serta mengenalkan adat desa pada kaum muda mudi.
“Dalam rangka nguri-nguri budaya, menjadi rutinitas setiap tahun kami, Pemerintah Desa Jenglungharjo, bersama seluruh elemen masyarakat, menggelar Genduri Budaya serta Ruwatan. Semoga ke depannya masyarakat Jenglungharjo dijauhkan dari kesusahan, diberikan kesehatan serta rezeki yang melimpah, serta agar kaum muda zaman sekarang tidak melupakan adat desa yang sudah ada.” jelasnya.
Antusiasme masyarakat Desa Jenglungharjo terlihat jelas dalam acara tersebut. Seluruh elemen masyarakat, dari perangkat desa hingga tokoh masyarakat, turut serta dalam upacara ini. Kehadiran para sesepuh desa juga menambah kekhidmatan acara, mengingat mereka adalah penjaga tradisi dan adat istiadat yang diwariskan turun-temurun. (IKA)






