Hadirkan 98 Wali Kota, Munas Apeksi 2025 Tunjukkan Spirit Persatuan Lewat Budaya dan Kepemimpinan

  • Whatsapp
Img 20250509 Wa0009
Pembukaan Munas VII Apeksi 2025 di Surabaya dengan Tari Remo sebagai simbol budaya Jawa Timur

SURABAYA, Nusantaraabadinews – Musyawarah Nasional (Munas) ke-VII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Resmi Dibuka di Grand City Convention Hall Surabaya

Munas VII APEKSI tahun 2025 resmi dibuka pada Kamis, 8 Mei 2025 di Grand City Convention Hall, Surabaya. Sebanyak 98 Wali Kota dari seluruh Indonesia menghadiri perhelatan nasional yang mengusung semangat kolaborasi bertajuk “Dari APEKSI untuk Negeri”.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto secara resmi membuka Munas ini dengan menabuh alat musik tradisional Tambur. Aksi simbolis tersebut dilakukan bersama Wakil Gubernur Jawa Timur, Wali Kota Surabaya, dan Direktur Eksekutif APEKSI, sebagai penanda dimulainya forum strategis tersebut.

Img 20250509 Wa0009
Pembukaan Munas VII Apeksi 2025 di Surabaya dengan Tari Remo sebagai simbol budaya Jawa Timur

Suasana pembukaan berlangsung semarak, menggambarkan semangat dan antusiasme para kepala daerah yang hadir. Ajang ini akan berlangsung hingga 10 Mei 2025 dan diproyeksikan menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antarkota dalam pembangunan nasional.

Rangkaian pembukaan Munas dimeriahkan dengan penampilan Tari Remo—ikon budaya khas Jawa Timur. Tarian ini tidak hanya mempersembahkan estetika gerak yang anggun dan energik, tetapi juga menyampaikan pesan keberanian dan keteguhan, sesuai dengan karakter pangeran gagah yang menjadi simbol utama tarian ini.

Tari Remo awalnya dikenal sebagai pengantar pertunjukan Ludruk di Surabaya dan mendapat sebutan “Reyoge Cak Mo” karena gaya geraknya yang menyerupai Reog Ponorogo. Kini, Tari Remo telah berkembang sebagai bentuk seni pertunjukan mandiri yang kerap ditampilkan dalam upacara adat maupun acara kenegaraan.

Img 20250509 Wa0008
Munas VII Apeksi Resmi Dibuka di Surabaya, Tari Remo Warnai Panggung Kehormatan

Para penari menampilkan kekuatan dalam gerakan tangan dan kaki, didukung selendang yang melambai harmonis seiring irama gamelan. Pola lantai garis lurus yang digunakan memberi kesan dinamis sekaligus tegas—menjadi simbol kekompakan dan keberanian.

Penampilan tari ini juga melibatkan para penari cilik, di antaranya Zahida Qolby Nadhiva, siswi SDN Perak Barat 4 yang tergabung dalam Sanggar Tari Putra Bima Respati Surabaya. Aksi mereka mencerminkan kecintaan generasi muda terhadap seni tradisional dan menjadi wujud nyata pelestarian budaya lokal.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *