Mahasiswa KKN UM Surabaya Ciptakan Oven Tenaga Surya Hibrida Bantu Produksi Kerupuk Samiler

  • Whatsapp
Img 20250901 Wa0054

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya menghadirkan inovasi berupa Oven Tenaga Surya Hibrida.

Alat ini mengombinasikan pemanfaatan energi matahari dengan bantuan blower listrik untuk mempercepat dan meratakan proses pengeringan.

Bacaan Lainnya

“Oven ini dirancang agar tetap dapat berfungsi optimal dalam berbagai kondisi cuaca. Saat matahari bersinar, panas dari kolektor surya dimanfaatkan, sedangkan saat mendung atau butuh percepatan pengeringan, blower listrik membantu sirkulasi panas agar tetap merata,” jelas juru bicara tim KKN, Didin Cahya Saputra.

Teknologi ini dinilai ramah lingkungan, hemat energi, dan mampu meningkatkan produktivitas serta kualitas kerupuk samiler.

Selain itu, penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan menjadi model inovasi yang dapat diaplikasikan untuk berbagai produk olahan pangan lainnya.

“Kami tidak hanya fokus pada aspek fungsional, tetapi juga pada desain ergonomis dan efisiensi ruang. Oven ini dibuat dengan mempertimbangkan aliran udara panas agar merata dan meminimalkan kehilangan energi. Harapannya, desain ini bisa direplikasi oleh UMKM dengan biaya terjangkau,” kata Didin.

Dengan adanya oven tenaga surya hibrida ini, pelaku UMKM di Desa Wonosunyo dapat mengurangi ketergantungan pada cuaca, mempercepat proses produksi, menjaga higienitas produk, dan menekan biaya operasional secara signifikan.

Inovasi ini diterapkan mahasiswa KKN UM Surabaya di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan untuk membantu proses pengeringan kerupuk semiler yang merupakan sumber mata pencaharian warga.

Proses pengeringan kerupuk yang selama ini mengandalkan sinar matahari memiliki berbagai kendala, seperti ketergantungan pada cuaca, risiko higienitas rendah, serta waktu produksi yang tidak efisien.

Metode tradisional pengeringan dibawah sinar matahari terbuka juga menimbulkan masalah serius, di antaranya ketergantungan pada cuaca, terutama saat musim hujan yang dapat menghentikan proses produksi.

Risiko kontaminasi dari debu, polusi, serangga, dan hewan, sehingga mengurangi standar kebersihan.

Proses yang memakan waktu dan tenaga, karena memerlukan pemantauan dan pembalikan produk secara manual.

Biaya tambahan dan dampak lingkungan, ketika produsen menggunakan bahan bakar kayu atau gas untuk pengeringan alternatif.

Kualitas yang tidak merata, karena distribusi panas yang tidak konsisten. Sementara itu, kerupuk samiler merupakan salah satu makanan ringan tradisional khas Jawa Timur.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *