SURABAYA, Nusantaraabadinews.com –
Perjalanan hidup dan karir Wakil Rektor (Warek) I Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Harjo Seputro, S.T., M.T., penuh inspirasi dan patut diteladani, terutama bagi mereka yang memiliki mimpi besar meski berasal dari latar belakang sederhana.
Bahkan Harjo Seputro, S.T., M.T., tercatat sebagai dosen sekaligus peneliti yang berhasil memiliki paten pertama di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Prestasi ini merupakan hasil capaian yang menegaskan dedikasi dan konsistensinya dalam bidang riset material dan teknik mesin.
Harjo sendiri menekuni penelitian tentang metal matrix composite (MMC), dengan fokus pada pemanfaatan abu dasar batu bara sebagai penguat material, yang menghasilkan inovasi berupa piringan cakram, baut, mur, hingga bahan untuk propeller kapal.
“Paten dari inovasi dan penitian ini adalah sebuah kebanggaan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi kampus,” ujar Harjo.
Untuk dapat mencapai semua ini, jalan panjang dari kerja keras, disiplin dan dedikasi harus dilaluinya. Lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 3 Mei 1967, Harjo Seputro, tumbuh besar di keluarga bersahaja sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara.
Ibunya seorang bakul ikan asin di pasar, sementara ayahnya adalah seorang veteran Angkatan Darat yang kemudian aktif di Koperasi Unit Desa (KUD) setelah pensiun. Kendati hidup sederhana, nilai-nilai disiplin dan kerja keras yang diwariskan orang tuanya membentuk fondasi karakter Harjo.
“Saat itu meski hidup sederhana namun orang tua tidak pernah berhenti menekankan disiplin serta pentingnya pendidikan,” kata Harjo.
Semangat itu membawanya meraih beasiswa di setiap jenjang pendidikan, dari sekolah dasar hingga menengah kejuruan (SMK). Tahun 1988, Harjo melanjutkan pendidikan di Untag Surabaya, mengambil jurusan Teknik Mesin dengan fokus pada material.
Namun, perjalanan kuliahnya tidak mudah. Ia harus bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu pekerjaan penting adalah mengelola Koperasi Mahasiswa Untag Surabaya, yang saat itu berkembang pesat di bawah kepemimpinannya.
“Saat itu bagaimana koperasi mahasiswa tersebut sempat menjadi nomor satu di Surabaya dan menjadi rujukan bagi kampus lain, sekaligus tempat saya belajar banyak tentang manajemen dan tanggung jawab,” kenang Harjo.
Setelah itu, Harjo mencoba bekerja di bidang yang sesuai dengan keahliannya. Ia bergabung dengan PT Karpindo Bahagia sebagai perencana dan drafter, sesuai dengan latar belakang pendidikannya di bidang Teknik Mesin.
Perusahaan ini bergerak di bidang pembuatan mesin-mesin untuk pabrik gula, dengan kantor cabang di Surabaya (saat itu berada di Jalan Ahmad Yani, kini lokasi tersebut telah menjadi Transmart).
Sebagai perencana, Harjo bertugas mendesain dan menggambar komponen mesin yang digunakan dalam proses produksi gula.
Pekerjaan ini melibatkan analisis kebutuhan mesin, penyusunan desain mekanis, serta memastikan rancangan sesuai dengan spesifikasi teknis dan standar kualitas.
Selain itu, ia juga terlibat dalam proses teknis lain yang berkaitan dengan implementasi desain, termasuk berdiskusi dengan tim produksi untuk memastikan kelayakan dari segi teknis dan ekonomis.
Selama dua tahun bekerja di PT Karpindo Bahagia, Harjo memperoleh banyak pengalaman praktis di bidang permesinan, meskipun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Untag Surabaya karena alasan kesehatan.
Keputusan tersebut membuka jalan baru bagi karir akademisnya, dimana ia memanfaatkan pengetahuan teknis dari industri untuk mengajar dan meneliti di bidang material dan teknik mesin.
Pada tahun 2000, Harjo melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), jurusan Metalurgi dan Material, dan lulus pada tahun 2002. Setelah itu, ia mulai mengajar di Jurusan Teknik Mesin Untag Surabaya dan dipercaya menjabat sebagai Kepala Laboratorium.
Perjalanan karier akademiknya terus menanjak, hingga ia pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Mesin selama dua periode, Kepala Pusat Penelitian di LPPM Untag Surabaya, kemudian menjadi Wakil Ketua sekaligus sekretaris LPPM, sebelum akhirnya dipercaya sebagai Wakil Rektor I pada tahun 2021.
Pada tahun akademik 2025–2029, Harjo kembali dipercaya memegang amanah sebagai Wakil Rektor I Untag Surabaya, sebuah bukti nyata dedikasi dan kepemimpinan yang ia tunjukkan selama periode sebelumnya. Ia menegaskan bahwa karier yang ia jalani benar-benar dimulai dari bawah, tanpa ada yang instan, melainkan melalui proses panjang.
Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Meski belum lulus tepat waktu karena tanggung jawabnya sebagai Wakil Rektor, ia tetap optimistis dapat menyelesaikan studi dengan baik.
“Bagi saya, keterlambatan di S3 hanya berdampak pada diri saya sendiri, sedangkan mengabaikan tugas sebagai Wakil Rektor akan memberi dampak besar bagi banyak orang,” ungkapnya.
Di luar kampus, Harjo juga aktif di masyarakat. Ia pernah menjabat sebagai Ketua RT dan pengurus RW di Sidoarjo. Saat ini, ia lebih banyak mencurahkan perhatian pada pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di bidang logam dan pengecoran.
Sebagai Wakil Rektor I, Harjo memiliki visi besar untuk menjadikan Untag Surabaya semakin berdaya saing di bidang akademik dan penelitian. Ia juga berkomitmen mendukung mahasiswa agar mampu berprestasi serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Baginya, kunci dari semua pencapaian adalah perencanaan matang, disiplin, kesabaran, dan ketekunan, karena tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan.(**)






