MADIUN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun menunjukkan komitmen nyata dengan langsung menyerap lebih dari 2 ton tomat milik petani yang harganya anjlok dan menumpuk di pasar. Langkah cepat ini diambil setelah adanya arahan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, untuk membantu menstabilkan harga komoditas hortikultura yang jatuh.
Bupati Madiun, Hari Wuryanto, memastikan Pemkab segera melakukan pembelian begitu mendapat kabar buruk dari petani.
“Sejak muncul informasi, kami langsung bergerak. Awalnya sekitar 1,5 ton berhasil diserap, kemudian ada tambahan serapan lagi hingga totalnya lebih dari 2 ton. Ini bentuk komitmen tanggap darurat Pemkab,” ujar Hari.
Tomat yang telah diserap tersebut tidak dibiarkan menumpuk, melainkan langsung diolah. Pemkab Madiun, menggandeng Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), bahkan mengubah sebagian hasil panen menjadi jus tomat dalam kegiatan bersama, menunjukkan inisiatif pengolahan pascapanen.
Akar Masalah: Komunikasi Petani dan Pemerintah
Meskipun respons cepat, Bupati Hari Wuryanto mengakui bahwa persoalan utama yang menyebabkan panen melimpah dan harga anjlok adalah komunikasi yang tersendat antara petani dan pemerintah.
“Kalau komunikasinya bagus, masalah seperti ini tidak perlu terjadi. Kami menyayangkan hal itu, tapi ke depan harus lebih terbuka. Pemkab selalu siap menampung aspirasi petani,” tegasnya.
Saat ini, rata-rata harga tomat di tingkat petani hanya berkisar Rp2.200 hingga Rp2.500 per kilogram, jauh di bawah harga jual konsumen. Angka ini memicu kerugian signifikan bagi petani.
Solusi Jangka Panjang: Gudang Penyimpanan dan Jaringan Distribusi
Untuk mencegah terulangnya insiden serupa dan menjamin kesejahteraan petani, Pemkab Madiun menyiapkan tiga langkah strategis ke depan:
Penguatan Forum Komunikasi: Mengoptimalkan Balai Pertanian Kuwiran sebagai sarana rutin untuk menampung seluruh persoalan petani, mulai dari prediksi panen hingga distribusi.
Penyediaan Storage (Gudang Penyimpanan): Menyiapkan langkah lanjutan berupa pembangunan gudang penyimpanan yang memadai. Dengan adanya gudang berpendingin, hasil panen bisa bertahan lebih lama dan petani tidak terpaksa menjual saat harga pasar sedang jatuh.
Keterlibatan Koperasi Besar: Membuka akses penyaluran komoditas pertanian melibatkan koperasi besar berjejaring luas, seperti Koperasi Merah Putih (KMP) atau SPPG. “Dengan begitu, petani memiliki jaminan penyerapan dan harga yang lebih stabil,” jelas Hari.
Bupati Hari Wuryanto berjanji, tim pengendali inflasi daerah akan melakukan pantauan harga harian secara ketat dan memastikan Pemkab lebih sigap dalam melakukan antisipasi.
“Meskipun nilai serapannya mungkin tidak besar, bagi petani ini adalah harapan. Kami pastikan kejadian ini tidak terulang dan Pemkab akan lebih proaktif,” tutupnya.(Tia/Merry)






