SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Lima mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menunjukkan kepedulian kemanusiaan dengan terjun langsung membantu tim Basarnas mengevakuasi korban runtuhnya Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Pecinta Alam Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (PATAGA) Surabaya ini bekerja siang dan malam selama lebih dari sepekan di tengah reruntuhan bangunan yang menelan banyak korban jiwa.
Mereka adalah Cahyo Dwi Ardianto (Teknik Industri), Dimas Pramudito (Teknik Mesin), Raihan Avib Firmansyah (Ilmu Komunikasi), Rizki Febriansyah (Teknik Informatika), dan Ahmad Raihan (Ilmu Hukum).
Kelima mahasiswa tersebut bekerja bahu-membahu bersama relawan dari berbagai daerah, membantu evakuasi korban yang tertimpa reruntuhan bangunan asrama santri.
“Beberapa anggota Pataga memang tergabung dalam tim SAR Surabaya. Begitu mendapat informasi dari Basarnas, kami langsung menuju lokasi. Kami bertugas di lapangan lebih dari seminggu, membantu proses evakuasi siang dan malam secara shift,” jelas Dimas Pramudito, yang turut memimpin tim mahasiswa Untag di lokasi bencana.
Selain membantu evakuasi korban, para mahasiswa ini juga bertugas menjaga kesehatan dan kebersihan pos SAR.
“Kami membersihkan petugas, korban, dan peralatan dari debu semen serta asbes yang berbahaya bagi pernapasan. Kami juga mensterilkan alat pelindung diri dan menjaga higienitas pos SAR agar tim tetap sehat dan aman selama bertugas,” ujar Dimas.
Bagi Raihan Avib Firmansyah, pengalaman ini menjadi momentum besar dalam perjalanan kemanusiaannya.
“Ini pengalaman yang tak terlupakan. Biasanya kami hanya membantu pencarian orang hilang di gunung, tapi kali ini melihat begitu banyak korban membuat kami harus kuat secara mental dan fisik,” katanya.
Raihan menambahkan, kesiapan mereka di lapangan tak lepas dari pelatihan yang diterima selama bergabung di komunitas Pataga.
“Untungnya kami sudah sering dilatih oleh tim SAR profesional, jadi bisa langsung tanggap membantu,” tambahnya.
Sementara itu, Cahyo Dwi Ardianto mengaku sempat tertinggal perkuliahan karena terlibat penuh dalam evakuasi, namun ia menegaskan bahwa tugas kemanusiaan jauh lebih penting.
“Beberapa kelas saya memang tertinggal, tapi melihat keluarga korban yang menangis dan menunggu kabar, rasanya tak tega untuk berhenti sebelum semuanya selesai,” terangnya.
Aksi nyata mahasiswa Pataga Untag Surabaya ini mencerminkan nilai-nilai nasionalisme, gotong royong, dan tanggung jawab sosial yang dihidupkan di kampus Merah Putih.
Bagi mereka, menjadi mahasiswa bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang keberanian hadir dan memberi manfaat bagi sesama di saat bangsa sedang berduka.(**)






