Bank Sampah Desa Tiron Sulap Sampah Jadi Pupuk, Kerajinan hingga Tabungan Emas Bernilai Ekonomi

  • Whatsapp
Foto
Foto

MADIUN, Nusantaraabadinews.com – Tumpukan sampah yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan berhasil diubah menjadi sumber nilai ekonomi oleh masyarakat Desa Tiron, Kabupaten Madiun. Melalui Bank Sampah binaan Pemerintah Desa Tiron yang berada di Dusun Kuwek, limbah organik maupun anorganik dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai jual, mulai dari pupuk organik, kerajinan tangan, hingga program tabungan emas.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan warga, sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular berbasis pemberdayaan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Ketua Bank Sampah Desa Tiron, Wiwik, menjelaskan bahwa seluruh sampah yang disetorkan masyarakat dipilah sejak awal berdasarkan jenisnya agar proses pengolahan lebih efektif.

Sampah organik kemudian diolah menggunakan komposter menjadi pupuk kompos yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tanaman di kawasan green house milik kelompok.

Selain menghasilkan kompos, pengolahan limbah organik juga menghasilkan Pupuk Organik Cair (POC) yang dibagikan kepada masyarakat melalui sistem barter.

“Kalau organik nanti dibuat komposter, hasilnya dipakai untuk green house. Kalau ada warga setor sampah organik, sistemnya barter dengan satu botol pupuk cair POC,” ujar Wiwik.

Foto
Foto

Menurutnya, pola tersebut menjadi salah satu cara membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah organik masih memiliki manfaat ekonomi apabila dikelola secara tepat.

Dalam proses pengomposan, pengelola memanfaatkan dekomposer berbasis asam humat dan sembilan jenis mikroba yang berfungsi mempercepat proses penguraian bahan organik. Teknologi tersebut mampu mempercepat proses pembentukan kompos menjadi sekitar 10 hingga 14 hari, lebih cepat dibanding metode konvensional.

Wiwik menambahkan, mikroba tersebut juga membantu meningkatkan kualitas kompos, mempercepat pelepasan gas amoniak selama proses fermentasi, mengikat sejumlah logam berat di dalam media tanam, serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan unsur hara bagi tanaman.

Berdasarkan hasil analisis Laboratorium Biologi dan Bioteknologi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), formulasi dekomposer tersebut direkomendasikan digunakan sebanyak satu hingga dua liter untuk setiap satu ton bahan organik.

POC yang dihasilkan juga diperkaya dengan unsur hara makro, mikro, asam humat, hasil fermentasi, serta zat pengatur tumbuh yang berfungsi mendukung pertumbuhan tanaman, meningkatkan pembentukan klorofil, memperkuat ketahanan tanaman terhadap penyakit, serta membantu meningkatkan produktivitas hasil panen.

Tidak hanya sampah organik, limbah anorganik juga dimanfaatkan menjadi berbagai produk kreatif.

Plastik kresek bekas diolah dengan cara disetrika hingga menjadi lembaran yang kuat sebelum dipotong dan dijahit menjadi tas belanja ramah lingkungan dengan harga sekitar Rp50 ribu per buah.

Berbagai limbah lainnya seperti galon bekas, sendok plastik, hingga kaleng bekas juga diubah menjadi pot tanaman, vas bunga, tempat sampah, serta berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi.

Salah satu program unggulan yang paling diminati masyarakat adalah “Sampah Menjadi Emas” hasil kerja sama dengan Pegadaian.

Melalui program tersebut, hasil penjualan sampah tidak langsung diterima dalam bentuk uang tunai, melainkan ditabung hingga nantinya dapat dikonversi menjadi emas batangan.

“Prinsipnya, sampah menjadi emas. Uang hasil setor sampah ditabung di Pegadaian. Kalau sudah banyak, bisa diambil dalam bentuk emas batangan,” kata Wiwik.

Selain tabungan emas, pengelola juga menyediakan tabungan reguler sehingga warga dapat mencairkan hasil penjualan sampah kapan pun sesuai kebutuhan.

Pengelola Bank Sampah Desa Tiron juga tengah mempelajari teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).

Teknologi tersebut masih berada pada tahap pembelajaran. Apabila berhasil diterapkan, metode ini diharapkan mampu menjadi solusi bagi limbah plastik yang sulit didaur ulang sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Di balik berbagai inovasi tersebut, pengelola berharap adanya dukungan pemerintah melalui pembinaan, pelatihan, penguatan kelembagaan, bantuan pemasaran produk, hingga kolaborasi dengan koperasi maupun dunia industri.

Melalui sinergi berbagai pihak, Bank Sampah Desa Tiron diharapkan mampu menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan warga.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa sampah bukan lagi sekadar limbah. Dengan kreativitas, inovasi, dan semangat gotong royong, sampah mampu diubah menjadi pupuk berkualitas, produk kerajinan bernilai jual, sumber pendapatan, hingga investasi masa depan melalui program tabungan emas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *