Napak Tilas Sejarah Bung Karno, Untag Surabaya Gelar Sarasehan dan Doa Bersama di Rumah Sang Proklamator

  • Whatsapp
Img 20250626 Wa0008
Rektor Untag Surabaya bersama civitas akademika dalam sarasehan Bung Karno di rumah kelahirannya, Jalan Peneleh, Surabaya"

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mrnggelar Sarasehan dan Doa Bersama di rumah kelahiran Bung Karno Jalan Peneleh Kota Surabaya.

Sarasehan dan doa bersama yang sengaja digelar Selasa (24/06/25) dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno ini, juga dilaksanakan di Rumah HOS Tjokroaminoto.

Bacaan Lainnya
Img 20250626 Wa0008
Rektor Untag Surabaya bersama civitas akademika dalam sarasehan Bung Karno di rumah kelahirannya, Jalan Peneleh, Surabaya”

Kegiatan yang diinisiasi jajaran Struktural Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya dan Untag Surabaya ini bertujuan mengenang perjalanan hidup dan perjuangan Sang Proklamator bangsa, sekaligus meneguhkan kembali semangat patriotisme di kalangan civitas akademika Untag Surabaya.

Selain itu, Bung Karno bukan hanya Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia, tetapi juga penggagas utama berdirinya Untag Surabaya.

Rektor Untag Surabaya Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA., CPA. menegaskan bahwa kegiatan sarasehan dan doa bersama ini menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas Kampus Merah Putih serta membangkitkan semangat inovasi, kreativitas, dan tanggung jawab kebangsaan di kalangan generasi penerus bangsa.

“Hari ini kita mengenang tempat lahirnya Bapak Bangsa kita, Bung Karno. Untag Surabaya lahir dari gagasan Bung Karno, oleh karena itu kita harus senantiasa menghormati jejak sejarah ini. Melalui kegiatan ini, mudah-mudahan semangat patriotisme yakni mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dapat terus bergelora di tengah civitas akademika. Kita harus mewarisi keberaniannya dalam berinovasi dan berkorban demi kepentingan bangsa,” ungkap Prof. Nugroho.

Prof. Nugroho juga menambahkan bahwa sepanjang Bulan Juni ini, YPTA Surabaya menyelenggarakan beragam kegiatan, di antaranya Lomba Peragaan Busana dan Reka Peristiwa Soekarno dan Fatmawati, Lomba Baca Puisi dan berbagai lomba-lomba lainnya.

Semua rangkaian kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai perjuangan dan keteladanan Bung Karno di hati generasi muda.

“Momentum ini juga mengajak kita semua untuk merenungkan nilai-nilai perjuangan Bung Karno sebagai sumber inspirasi dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” terang Prof. Nug sapaan akrabnya.

Sementara itu, Ketua YPTA Surabaya J.Subekti, SH., M.M. dalam sarasehan ini mengisahkan perjalanan panjang perjuangan Bung Karno yang penuh pengorbanan demi kemerdekaan Indonesia.

Sejak muda, Bung Karno telah menempuh jalan berat sebagai pejuang bangsa, mulai dari berguru kepada Hos Tjokroaminoto di Surabaya, hingga harus merasakan pahitnya pembuangan ke Ende dan Bengkulu.

Tidak hanya menghadapi tekanan dari pemerintah kolonial, Bung Karno juga berkali-kali dipenjara dan dijauhkan dari rakyatnya demi membungkam perjuangannya untuk kemerdekaan.

“Bung Karno adalah sosok pemimpin yang tidak sekadar memproklamasikan kemerdekaan, tetapi juga rela menanggung derita, pengasingan, dan fitnah demi memperjuangkan nasib bangsanya. Semangat juangnya terbentuk dari pergulatannya sejak di Surabaya,” jelas J. Subekti.

Namun ironi, sejarah justru terjadi di penghujung hidup Sang Proklamator. Meski Bung Karno lahir di Surabaya, namun tempat peristirahatan terakhirnya justru ditetapkan di Blitar, bukan di dekat Istana Bogor sebagaimana wasiatnya.

Keputusan ini, menurut J.Subekti, merupakan hasil pertimbangan politik penguasa saat itu.

“Setelah beliau wafat pun, masih ada kontroversi terkait tempat pemakamannya. Sejarah mencatat, Bung Karno lahir di Surabaya, tetapi dimakamkan di Blitar karena keputusan pemegang kekuasaan tertinggi kala itu. Bahkan, jenazah beliau sempat tidak dirawat sebagaimana mestinya dan dipindahkan ke ruang lain beralas karpet lusuh sebelum akhirnya dimakamkan secara Islam di Blitar. Inilah ironi sejarah yang harus kita ingat bersama,” ungkap J. Subekti.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *