Mahasiswa KKN UM Surabaya Ciptakan Fermentor Tempe “TempeFast” Berbasis Tenaga Listrik

  • Whatsapp
Img 20250828 Wa0159

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya berinovasi dengan menciptakan fermentor tempe berbasis tenaga listrik bernama TempeFast.

Inovasi ini dirancang agar pelaku UMKM tidak lagi bergantung pada cuaca dan mampu menghasilkan tempe dengan kualitas yang lebih baik dalam waktu lebih singkat.

Bacaan Lainnya

TempeFast dilengkapi dengan pengatur suhu otomatis, sehingga proses fermentasi berlangsung lebih cepat dan stabil.

Dengan suhu yang konsisten, tempe yang dihasilkan memiliki tekstur dan kualitas yang seragam.

Selain mempercepat proses produksi, alat ini juga membantu pelaku UMKM menghemat tenaga karena tidak perlu mengontrol suhu secara manual.

Produsen cukup memasukkan bahan tempe yang telah diberi ragi ke dalam wadah fermentor, kemudian sistem pemanas otomatis akan menjaga suhu sesuai standar fermentasi.

Selama kurang lebih 12 jam, pengguna hanya perlu melakukan pengecekan sesekali untuk memastikan proses berjalan baik.

Manfaat dari TempeFast tidak hanya pada kecepatan dan kualitas, tetapi juga memberikan contoh bagaimana teknologi sederhana bisa diterapkan untuk usaha rumahan.

Dengan demikian, para pelaku UMKM dapat lebih melek teknologi dan meningkatkan daya saing di tengah persaingan pasar.

“Kami berharap inovasi ini bisa menjadi solusi praktis bagi pelaku UMKM tempe di Desa Jeruk Purut. Dengan adanya TempeFast, proses produksi lebih efisien, kualitas tempe lebih terjamin, dan para pelaku usaha bisa lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Harapan kami, alat ini dapat meningkatkan daya saing UMKM di tengah persaingan pasar yang semakin ketat,” terang Ketua Tim KKN UM Surabaya, Tufail Ilham Mansiz, Kamis (28/08/25).

Desa Jeruk Purut Gempol Pasuruan dipilih Tim KKN UM Surabaya menjadi lokasi implementasi TempeFast karena dikenal sebagai salah satu sentra UMKM yang cukup terkenal dengan produksi tempenya.

Namun, proses pembuatan tempe di desa ini masih banyak dilakukan secara tradisional. Produsen sangat bergantung pada suhu dan kelembapan lingkungan, sehingga kualitas dan waktu fermentasi sering tidak konsisten.

Selain itu, keterbatasan alat dan pengetahuan teknis juga menjadi kendala dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *