Surabaya – Malang | Mulai Sabtu malam (1/11) sekitar pukul 21.00 WIB, sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di jalur Surabaya–Malang mengalami kelangkaan bahan bakar jenis Pertamax dan Pertamax Turbo. Hingga Minggu pagi (2/11), kondisi tersebut belum pulih sepenuhnya, membuat banyak pengendara kesulitan mendapatkan bahan bakar berkualitas tinggi.
Pantauan dan penelusuran investigatif di lapangan menunjukkan sejumlah SPBU tampak sepi akibat minimnya pasokan Pertamax dan Turbo, sementara pom mini yang sebelumnya tidak terlalu ramai justru diserbu warga karena masih memiliki sisa stok bahan bakar.
Kondisi ini memunculkan keresahan masyarakat. Sebagian pengendara menilai bahwa krisis ini bisa menurunkan kepercayaan publik terhadap kualitas pasokan BBM nasional. “Pilihan kita sekarang hanya dua: kualitas atau kuantitas. Tapi untuk jangka panjang, mesin kendaraan jelas butuh kualitas,” ujar salah satu pengendara mobil yang ditemui di kawasan Karanglo, Malang.
Para pengguna kendaraan juga mengeluhkan meningkatnya biaya bahan bakar. Pengeluaran rata-rata pengendara sepeda motor kini mencapai Rp150 ribu, sementara mobil bisa tembus Rp500 ribu per pengisian. Kondisi ini dianggap memberatkan, terutama bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi.
Situasi di lapangan juga menimbulkan dugaan apakah kelangkaan ini berkaitan dengan kebijakan transisi energi menuju motor listrik dan mobil listrik (molis) yang kini gencar dipromosikan pemerintah. Beberapa warga bahkan menilai, jika tidak segera diatasi, polemik BBM ini bisa menjadi berkepanjangan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap kebijakan energi nasional.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pertamina terkait penyebab kelangkaan dan upaya distribusi ulang di wilayah Jawa Timur. Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan klarifikasi dan solusi konkret agar tidak muncul spekulasi di tengah publik. ( Red)






