Kembangkan Batik Sidoarjo, Tim PKM Unitomo-Untag Hadirkan Inovasi Mesin Robot Motif Batik

  • Whatsapp
Img 20250916 Wa0011

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Tim dosen Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya berkolaborasi dengan Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya menggelar program PKM di Industri Rumah Tangga (IRT) Batik Namiroh, Jalan Jetis III No. 102, Kelurahan Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo.

Program PKM yang berlangsung sejak Tanggal 9 Juni hingga 17 September 2025 ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – DPPM Kemdiktisaintek 2025.

Bacaan Lainnya

Tim pelaksana PKM yang bertemakan “PKM Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Berbasis Green Economy di Kampung Batik Kabupaten Sidoarjo” ini terdiri dari tiga dosen, yakni Dr. Yoosita Aulia, SE., MM., Ak. (dosen Prodi Akuntansi FEB Unitomo), Dr. Dian Ferriswara, SE., MM. (dosen Prodi Administrasi Niaga FIA Unitomo), dan Maula Nafi, ST., MT. (dosen Prodi Teknik Mesin Untag).

Mereka juga melibatkan tiga mahasiswa Unitomo, yakni Emylia Mukmillah, Adista Ratih Cahyani Ramadhan, dan Rizqi Lailatul Hasanah.

Ketua tim Yoosita Aulia, mengungkapkan permasalahan utama yang dihadapi mitra IRT Batik Namiroh adalah keterbatasan produk yang masih didominasi batik tulis sintetis dengan 90% motif tradisional Madura dan 10% inovasi.

Kondisi rumah produksi juga memprihatinkan karena berada di pemukiman padat, kumuh, dan tidak tertata.

“Dari hasil survei awal, rumah produksi terlihat kumuh, kayu pembakaran diletakkan begitu saja, sementara pelorot malam berdekatan dengan ruang galeri. Layout ruang produksi belum tertata dengan baik,” ungkapnya, Selasa (16/09/25).

Yoosita menambahkan, ruang galeri yang berada di ruang tamu sangat sempit, batik belum tertata rapi, sementara proses canting dan pengeblokan warna masih dilakukan di teras depan dan belakang rumah.

Proses menghaluskan batik pun masih konvensional, yakni dengan cara memukul kain menggunakan palu kayu.

Sejalan dengan itu, anggota tim, Dian Ferriswara, menambahkan bahwa mitra belum memiliki kemasan produk yang layak sehingga menurunkan nilai jual.

“Selama ini kain batik hanya dilipat dan diikat per lima potong. Branding produk jadi lemah, harganya pun lebih murah,” katanya.

Ia juga menyoroti lemahnya keterampilan packaging, belum adanya pembukuan sederhana, keterbatasan motif, serta rendahnya kapasitas produksi karena hanya 9 dari 25 pengrajin yang benar-benar aktif.

“Mereka masih mengandalkan catatan kecil untuk pembelian bahan baku, sedangkan tenaga pengrajin banyak yang bekerja di pabrik sehingga pengerjaan dilakukan di rumah masing-masing,” jelasnya.

Untuk mengatasi permasalahan itu, tim menghadirkan inovasi berupa mesin robot motif batik yang lebih portabel.

“Tujuannya agar proses menggambar motif batik tulis lebih cepat dan bervariasi. Mesin robot ini berukuran 60 x 100 sentimeter sehingga mudah dipindah-pindahkan. Jika cara manual butuh waktu hingga tiga minggu, mesin ini dapat menyelesaikan pola hanya dalam tiga jam,” terang Yoosita.

Dalam sesi pelatihan, Maula Nafi menjelaskan penggunaan mesin tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada SDM.

“Dengan mesin robot motif batik, produksi bisa selesai tiga bulan dari sebelumnya empat bulan. Meski berbasis teknologi, proses manual tetap dipertahankan untuk menjaga nilai historis batik,” jelasnya.

Yoosita menambahkan bahwa mesin ini mampu meningkatkan produksi hingga 40%, menghemat penggunaan malam, dan menjaga kualitas produk.

Sebagai bentuk dukungan penuh, tim juga menghibahkan satu unit mesin robot motif batik kepada mitra.

“Kami berharap alat ini dimanfaatkan secara maksimal agar pengrajin dapat berkreasi dengan motif yang lebih beragam, termasuk membuat logo instansi yang sebelumnya sulit dilakukan dengan cara manual,” tutur Yoosita.

Yoosita juga mengapresiasi Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – DPPM Kemdiktisaintek atas dukungan pendanaan.

“Kami Tim PKM Unitomo menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada DPPM Kemdiktisaintek yang telah mendanai kegiatan PKM ini untuk tahun anggaran 2025,” kata Yoosita.

Program ini diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan kualitas produksi batik, tetapi juga memberdayakan pengrajin muda di Kelurahan Lemahputro Sidoarjo agar terus melestarikan seni batik dengan dukungan inovasi teknologi yang ramah lingkungan.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *