SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Sebanyak 70 grup orkes keroncong dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Untag National Cultural Competition (UNCC) yang digelar di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Kompetisi Keroncong Nasional bertajuk “Swaralaya Citra Kusuma” yang diselenggarakan Badan Koordinasi Kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (BKK-UKM) ini memasuki tahun penyelenggaraan kedua dan menunjukkan perkembangan signifikan dengan meningkatnya jumlah peserta yang membludak.

Dimana tahun lalu kompetisi berskala nasional ini hanya diikuti 23 grup orkes keroncong. Selain itu, kategori lomba yang sebelumnya hanya siswa dan umum, kini bertambah dengan kategori baru yakni mahasiswa.
Bendahara YPTA Surabaya sekaligus pendamping kegiatan, Ontot Murwato, menjelaskan peningkatan ini menjadi bukti tingginya minat masyarakat terhadap seni keroncong.
Dari puluhan peserta yang mengikuti seleksi daring, hanya sembilan tim terbaik yang berhasil melaju ke babak final dan tampil secara langsung di Surabaya.
“Animo masyarakat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa budaya kita, terutama seni keroncong sebagai karya seni tingkat tinggi para leluhur, perlu terus dikenalkan kepada khalayak, khususnya siswa dan mahasiswa,” terang Ontot saat final kegiatan di Ruang Auditorium lt.6 Gedung R.Ing Soekonjono, Kamis (27/11/25).
Ontot menjelaskan, meskipun Untag Surabaya berupaya menuju World Class University, akar budaya Indonesia tetap harus menjadi fondasi yang kuat.
“Kalau sudah kenal, mereka akan memahami dan akhirnya mencintai. Modernisasi boleh, tetapi budaya jangan sampai lepas,” katanya.
Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, J. Subekti, menegaskan, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Untag dalam melestarikan budaya nasional.
Subekti menyoroti fenomena anak muda yang semakin melupakan budaya asli Indonesia, khususnya musik tradisional.
“Kondisi ini memprihatinkan dan membahayakan bagi ketahanan bangsa. Sejak tahun lalu kami mengadakan lomba orkes keroncong untuk mengajak anak-anak muda kembali mencintai budaya Indonesia,” terang Subekti.
Ia menjelaskan langkah ini sejalan dengan konsep Trisakti Bung Karno, terutama prinsip berkepribadian dalam kebudayaan.
“Itu juga tertuang dalam hymne Untag, Untag penyebar ilmu budaya bangsa. Jadi kami konsisten menyebarkan budaya bangsa sembari mendidik karakter dan kecerdasan generasi muda,” ujarnya.
Subekti juga memberikan pesan khusus bagi generasi muda agar tidak larut dalam budaya populer luar negeri.
“Anak-anak muda jangan sampai tergerus cara berpikirnya. Jangan terlalu Korea, Amerika, atau Arab. Berpikirlah kembali pada kepribadian Indonesia,” terangnya.
Terkait internasionalisasi kampus, YPTA Surabaya membuka ruang bagi sivitas akademika Untag untuk merumuskan konsep world class university yang sesuai dengan jati diri bangsa.
“Kami akan melakukan studi banding agar dapat membangun konsep yang tepat, universitas yang berkelas dunia, tetapi tetap Indonesiawi,” papar Subekti.
Dengan meningkatnya antusiasme peserta, UNCC Keroncong Nasional diharapkan menjadi ruang berkelanjutan bagi pelestarian budaya, sekaligus memperkuat identitas generasi muda Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi.
Salah seorang peserta, Raden Muhammad Alif Daffa dari Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta mengaku optimis dapat memenangkan kompetisi ini.
“Kami di sini membawa dua lagu. Tembang Bengawan Solo dan Keroncong Moritsko. Untuk persiapan kami kurang lebih satu bulan untuk latihan dan mematangkan aransemen,” katanya.
Raden dan tim berharap bisa menenangkan kompetisi, dan banyak anak muda yang lebih mengenal musik keroncong.
“Kami sangat optimis dan kami juga berharap agar kami bisa juara satu. Ini juga menambah pengalaman kami di bidang musik,” pungkas Raden.(**)






