SURABAYA , Nusantaraabadinews.com — Tak semua perjumpaan budaya harus lahir dari panggung megah, gemerlap festival internasional, atau museum berarsitektur monumental,” Kamis (29/1/2026).
Di Surabaya, sebuah dialog lintas bangsa justru tumbuh dari sesuatu yang paling dekat dengan denyut keseharian: sebuah papan telenan kayu.
Benda sederhana yang lazim ditemui di dapur itu, pada hari tersebut, menjelma menjadi medium peradaban. Ia tak lagi sekadar alas memotong bahan makanan, melainkan kanvas budaya. Di atas permukaannya, motif batik kawung dilukiskan dengan ketekunan, kesabaran, dan kesadaran akan makna.

Setiap garis dan warna menjadi pintu masuk untuk memahami Indonesia bukan melalui ceramah, melainkan lewat pengalaman yang dirasakan secara langsung.
Aktivitas melukis papan telenan ini menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran budaya Nusantara dalam penyambutan puluhan mahasiswa dan dosen asing dari berbagai negara. Mereka hadir dengan latar bahasa, budaya, dan tradisi yang berbeda, namun disatukan oleh rasa ingin tahu yang sama: mengenal Indonesia dari jarak yang lebih dekat dan personal.
Di ruang tersebut, seni tidak ditempatkan sebagai pajangan. Ia hidup. Ia bekerja. Ia menjadi bahasa universal yang mampu menembus sekat linguistik dan geografis. Setiap sapuan warna menghadirkan dialog sunyi tentang nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia—tentang kesederhanaan, kebersamaan, keseimbangan, serta filosofi hidup yang diwariskan lintas generasi.
Melalui media yang membumi dan akrab, budaya Nusantara diperkenalkan bukan sebagai sesuatu yang jauh, eksklusif, atau elitis, melainkan hangat, dekat, dan dapat disentuh.
Batik kawung pun seolah bercerita, membuka ruang percakapan yang melampaui batas bangsa dan zaman.
Sebagai salah satu motif batik tertua di Indonesia, kawung memiliki akar sejarah yang panjang dan kuat dalam kebudayaan Jawa. Jejaknya telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Kuno dan berkembang dalam tradisi keraton. Yogyakarta dan Surakarta menjadi dua pusat budaya yang menjaga dan mewariskan motif ini sebagai simbol nilai-nilai luhur.

Ciri khas kawung berupa bulatan simetris yang menyerupai buah kolang-kaling—buah dari pohon aren yang menjadi asal penamaannya. Susunan bulatan yang rapi dan seimbang merepresentasikan empat arah mata angin, melambangkan keteraturan kosmos dan keseimbangan hidup. Lebih dari itu, kawung dimaknai sebagai simbol kesucian, ketulusan, serta kemampuan manusia dalam mengendalikan diri.
Tak mengherankan jika pada masa lalu motif ini dikenakan oleh bangsawan dan pemimpin sebagai lambang kebijaksanaan dan kehormatan. Ia juga kerap digunakan dalam berbagai upacara sakral di lingkungan Keraton Yogyakarta, menegaskan bahwa batik bukan sekadar kain, melainkan penanda etika dan laku hidup.
Makna penyambutan kian utuh dengan hadirnya Tari Jejer Jaran Dawuk, tarian khas Banyuwangi yang berakar dari kesenian Gandrung. Tarian ini melambangkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus berfungsi sebagai tari penyambutan tamu.
Gerakannya tegas namun anggun, dinamis namun terkendali, mencerminkan karakter masyarakat Banyuwangi yang ramah, kuat, dan setia menjaga tradisi.
Para mahasiswa dan dosen asing tampak terhanyut. Mereka tidak sekadar menyaksikan pertunjukan, tetapi merasakan denyut budaya Indonesia sebagai pengalaman hidup—pengalaman yang menyentuh rasa, bukan sekadar mengisi ingatan visual.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen Sekolah NSA Surabaya dalam melestarikan budaya Nusantara sekaligus memperkenalkannya ke kancah internasional. Semangat multikultural sekolah tersebut tercermin melalui penampilan siswa-siswi SMP NSA yang tampil percaya diri dan penuh ekspresi.
Alunan lembut musik guzheng berpadu dengan penampilan wushu yang dinamis dan elegan, menghadirkan harmoni lintas budaya yang tumbuh secara alami di lingkungan pendidikan. Perpaduan ini menjadi simbol bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang saling memperkaya.
Tak berhenti di situ, para tamu juga diajak mengenal dan mempelajari beragam warisan budaya Nusantara lainnya, seperti gamelan, angklung, dan kulintang—alat musik tradisional yang mewakili kekayaan bunyi dan rasa dari berbagai penjuru Indonesia. Setiap denting dan getaran menjadi narasi tentang identitas, ruang, dan sejarah.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Sekolah NSA menegaskan posisinya sebagai ruang belajar lintas budaya.
Sebuah ruang yang tidak hanya mentransfer pengetahuan akademik, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang kontekstual, relevan, dan bermakna bagi siswa, pendidik, serta mitra internasional.

Kepala Sekolah SMP NSA Surabaya, Ingriette Liany Widyasari, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan bagian dari program internasional jangka panjang yang dirancang secara berkelanjutan. Program tersebut terselenggara berkat kerja sama strategis antara NSA Surabaya dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Direktorat Kemitraan Global (DKG).
“Selain melatih kemampuan literasi dan komunikasi peserta didik, program ini bertujuan mengenalkan budaya tradisional Indonesia ke kancah internasional dengan pendekatan yang lebih personal dan bermakna,” ujar Ingriette.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi ruang akulturasi yang memperkaya pemahaman lintas budaya, baik bagi siswa lokal maupun para tamu asing, sekaligus menumbuhkan sikap saling menghargai dalam keberagaman global.
Di Surabaya, dari sebuah papan telenan, dari tarian tradisi, dari bunyi-bunyi leluhur, Indonesia menyapa dunia dengan caranya sendiri: sederhana tanpa kehilangan martabat, hangat tanpa kehilangan makna, dan kuat tanpa perlu berteriak. Sebuah pengingat bahwa di tengah dunia yang terus bergerak cepat, budaya adalah jangkar—dan ketulusan adalah bahasanya. (Abie,)






