Reses Dikemas Cangkrukan, Cak Imin–Cak Jodi Ajak Milenial dan Gen Z Bangun Kesadaran Politik Kritis di Wonocolo

  • Whatsapp
IMG 20260210 WA0003

SURABAYA, Nusantaraabadinews.com – Anggota DPRD Kota Surabaya Komisi A, Muhaimin, SH, MM, yang akrab disapa Cak Imin, kembali menggelar kegiatan reses dengan konsep berbeda. Kali ini, reses dikemas secara santai melalui forum cangkrukan bersama Generasi Milenial dan Gen Z, menggandeng aktivis muda Cak Jodi Galajapo. Kegiatan tersebut rencananya digelar di WarungKu, Jalan Sidosermo, Kecamatan Wonocolo, pada Selasa malam, 10 Februari 2026, pukul 19.00 WIB, dengan dukungan unsur Muspika Kecamatan Wonocolo.

Konsep cangkrukan dipilih sebagai upaya mendekatkan wakil rakyat dengan generasi muda melalui ruang dialog yang egaliter, terbuka, dan tanpa sekat formal. Dalam suasana santai, peserta diajak berdiskusi mengenai isu-isu kebangsaan, demokrasi, serta pentingnya peran anak muda dalam kehidupan politik dan pemerintahan.

Cak Imin menegaskan bahwa Generasi Milenial dan Gen Z merupakan agent of change atau garda terdepan perubahan politik bangsa Indonesia. Di tengah dinamika demokrasi yang terus berkembang, generasi muda diharapkan mampu membawa nilai-nilai baru yang lebih relevan, kritis, dan berintegritas.

“Pendidikan politik menjadi langkah fundamental agar generasi muda tidak terjebak pada sikap apatis. Justru sebaliknya, mereka harus memiliki kesadaran kritis, berani bersuara, dan aktif berpartisipasi dalam proses demokrasi,” ujar Cak Imin.

Dalam forum tersebut juga dibahas hasil kajian berbasis tinjauan pustaka (literature review) yang mengumpulkan berbagai literatur relevan terkait persepsi Gen Z terhadap politik. Tahapan kajian meliputi proses membaca, menganalisis, mengevaluasi, hingga mensintesis beragam sumber ilmiah dan data pendukung.

Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z masih memandang politik sebagai sesuatu yang kotor, keras, dan sarat korupsi. Sensitivitas dan sikap skeptis generasi muda terhadap politik banyak dipengaruhi oleh hegemoni media sosial, yang kerap menampilkan narasi negatif, konflik elite, serta praktik politik transaksional.

Kondisi tersebut dinilai berbahaya apabila tidak diimbangi dengan pendidikan politik yang memadai. Padahal, Gen Z merupakan lumbung bonus demografi Indonesia, yang memiliki potensi besar dalam menentukan arah masa depan bangsa. Tanpa pendidikan politik yang baik, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban demokrasi.

IMG 20260210 WA0002“Oleh karena itu, pendidikan politik bagi Generasi Z dan Milenial bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban. Tujuannya agar lahir partisipasi politik yang cerdas, aktif, dan berlandaskan nalar kritis, bukan sekadar ikut-ikutan atau terjebak kepentingan kapitalistik,” jelas Cak Jodi Galajapo dalam diskusi tersebut.

Lebih lanjut disampaikan, salah satu langkah penting dalam pendidikan politik adalah keteladanan positif dari para pejabat publik dan pemegang kebijakan. Sikap, perilaku, dan keputusan yang berintegritas akan menjadi contoh nyata bagi generasi muda dalam memaknai politik sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Selain keteladanan, sosialisasi pendidikan politik juga perlu terus digencarkan oleh lembaga-lembaga terkait seperti KPU, Bawaslu, serta instansi lainnya. Pendidikan politik harus dikemas secara kreatif, komunikatif, dan menghibur, serta menghindari narasi yang berpotensi memecah belah, termasuk isu SARA. Media sosial dinilai menjadi sarana strategis untuk menyebarkan nilai-nilai demokrasi yang sehat dan inklusif.

Fakta di lapangan menunjukkan, tidak sedikit kaum Milenial yang telah terlibat aktif sebagai penggiat Pemilu, relawan demokrasi, hingga pengawas partisipatif. Mereka berupaya merefleksikan pengalaman politiknya dengan melakukan moderasi partisipasi, termasuk mengambil peran dalam mengurangi risiko dan potensi kecurangan Pemilu.

Dengan meningkatnya literasi politik di kalangan Milenial dan Gen Z, diharapkan dapat terbangun kultur politik yang sehat, dialogis, dan beretika. Diskursus politik yang bermartabat diyakini akan melahirkan sistem politik yang kuat serta mampu menjawab tantangan zaman.

Melalui reses berkonsep cangkrukan ini, Cak Imin berharap aspirasi, gagasan, serta kritik konstruktif dari generasi muda dapat terserap secara optimal, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa politik bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, melainkan ruang bersama untuk memperjuangkan masa depan bangsa. (Abie)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *